HILANG atau diHILANGkan? Kata itu yang ada selalu dibenak saya apabila meruntut kejadian ‘hilangnya’ kakak kami di tempat pengobatan KH. Abdullah Mubarok, Banjarsari, Ciamis.
Ceritanya sekitar 3 bulan lalu, dengan berharap mencari kesembuhan kakak kami, kami pergi ke daerah Banjarsari, Ciamis. Disana kamipun diberitahu bahwa sudah banyak pasien dari seluruh Indonesia yang katanya berobat ke sana dan 99% pasti sembuh. Singkat kata akhirnya kami bawalah kakak kami yang ’sakit’ ke tempat pengobatan KH. Abdullah Mubarok, di Banjarsari, Ciamis. Setelah melihat kondisi kakak kami tersebut langsung ditentukan bahwa untuk biaya pengobatan sekian juta, dan biaya perawatan 500 ribu/bulan. 3 hari setelah kakak disana, kami di SMS bahwa kekurangan sekian juta untuk biaya obat harus ditransfer pada saat itu juga. Karena itu weekend, maka kami minta senin baru dapat kami transfer. Saya sempat berpikir, kok sepertinya komersil sekali yaa? Tapi karena kami memang membutuhkan kesembuhan kakak kami ya kami turuti.
Akhirnya waktu hampir berjalan 2 bulan kakak kami disana, dan kalo kami tanya kemajuannya, dijawab ada kemajuan walopun cuman sedikit. Tapi sudah lebih baik katanya. Sampai akhirnya kabar tidak mengenakkan datang kalo tidak salah 26 Januari 2010, yang mengatakan bahwa kakak kami ‘melarikan diri’ dari tempat pengobatan. Tentu kami terkejut bukan kepalang, apalagi kami nantinya pasti bingung dengan apa yang mesti kami katakan kepada ibunda kami. Kakak kami yang lain datang ke ciamis untuk memperjelas informasi mengenai kaburnya kakak kami yang sedang dalam perawatan itu. Disinilah informasi yang kami dapat mulai meragukan kepercayaan kami. Versi pertama mengatakan bahwa kakak kami melarikan diri dari lubang angin, sementara versi lain mengatakan bahwa kakak melarikan diri ketika sedang diajak jalan-jalan dan tidak mau pulang tapi justru pergi. Dari sini saja sudah kelihatan seperti ada sesuatu yang disembunyikan. Saya tidak tahu itu apa, tapi itulah kenyataannya. Bahkan setiap kakak dan saudara kami ke ciamis untuk bertemu dengan sang kyai, tidak pernah ditemui dengan alasan sang kyai tidak ada ditempat dan tidak diketahui keberadaannya. Jadi hanya ditemui anak atau asistennya. Saya merasa bahwa sang kyai ini kurang bertanggungjawab.
Hal lain adalah, 2 minggu setelah ‘hilangnya’ kakak kami, saya coba telpon ke anak pak kyai. Saya ingin tahu apa yang sudah dilakukan. Jawabnya adalah mereka sudah menyiarkan di radio dan mencari di 2 desa. Saya heran, masa dalam 2 minggu cuman dicari dalam 2 desa? Saya semakin tidak nyaman, dan berpikir seriuskah mereka mencari kakak kami? Saya akhirnya menutup telepon dengan meminta anak sang kyai untuk meng-update ke kami informasi tentang upaya yang dilakukan. Hasilnya apa, mereka tidak pernah mengkontak kami, kecuali kalo kami yang mengkontak mereka. Bahkan terakhir kakak dan saudara kami ke sana pun ternyata pak kyai belum pulang dan tidak tahu ada dimana. sesuatu yang sungguh ANEH!
Perjalanan terakhir kakak dan saudara kami ke ciamis untuk sekedar mencari informasi upaya yang sudah dilakukan mereka dan melakukan penyebaran leaflet, sungguh dikejutkan dengan informasi dari kepolisian setempat (Banjarsari) bahwa mereka belum menerima laporan mengenai adanya orang hilang seperti yang dimaksudkan. Jadi setelah lebih dari 3 minggu kakak kami hilang, ternyata tempat pengobatan dimana kakak kami berobat tidak memberi tahukan kepada kepolisian? Sungguh hal yang ANEH!. Kami benar2 mulai kehilangan rasa kepercayaan dan keseriusan mereka dalam menangani kakak kami. Bagaimana tidak, orang sudah hilang lebih dari 3 minggu kok tidak dilaporkan ke kepolisian. Apa mereka tidak mencoba merasakan bagaimana apabila keluarga mereka yang hilang dan terlunta-lunta di jalan selama lebih dari 3 minggu dengan pakaian yang hanya melekat di badan dan tidak tahu akan makan dari mana? Sungguh apabila itu terjadi, sungguh bahwa itu bisa saja terjadi pada keluarga dan atau keturunannya.
Saat ini yang kami lakukan ya berdoa menyerahkan diri kepada Alloh SWT, pemilik dari semua mahluk dan kehidupan yang ada di bumi. Semoga kakak kami selalu dalam lindungan-Nya.
Lewat cerita ini kami hanya ingin berbagi dengan saudara-saudaraku sekalian. Bahwa kita harus berhati-hati memilih tempat yang kita berikan kepercayaan untuk penyembuhan. Karena belum tentu apa yang kita harapkan akan sesuai dengan kenyataan. Maunya minta kesembuhan, hasilnya malah orangnya ‘hilang’ atau ‘dihilangkan’, sungguh ironis!
Akhirnya, apabila rekan-rekan punya jaringan di daerah Perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah bagian selatan dan sekitarnya, mohon dapat menyebarkan informasi mengenai hilangnya kakak kami ini. Informasi hilangnya kakak kami dapat dilihat di http://elnadaboy.wordpress.com/2010/01/30/berita-orang-hilang-di-wilayah-ciamis/ atau http://arifs.staff.ugm.ac.id/data/HILANG.pdf atau http://suarapembaca.detik.com/read/2010/02/08/082328/1294854/283/arif-setyabudi-hilang-di-pangandaran-cilacap-sejak-25-januari-2010
Terima kasih atas bantuannya.
Salam
Arif S