Yogyakarta, 21 September 2010
Beberapa hari yang lalu seorang teman, dikei yang sedang meneruskan S3-nya di Amrik sana mengirim e-mail ke beberapa teman termasuk saya yang intinya perlunya bersama-sama menginformasikan bahwa tanggal 21 September 2010 adalah Hari Perdamaian Internasional ke masyarakat secara luas. Idenya adalah dengan melakukan serial tulisan yang berisi pesan-pesan tentang perdamaian dan dapat dimuat di surat kabar atau media massa baik lokal maupun nasional. Saya sendiri sebetulnya juga sudah ada ide, hanya sayang memang sepertinya ‘otak’ ini belum mampu mencerna dan mengeksplorasi lebih dalam sehingga menjadi tulisan yang menarik dan layak muat. Sehingga hingga deadline, saya tetap tidak bisa ikut berpartisipasi dalam ide besar kampanye hari perdamaian internasional itu.
Nah, tapi tak kurang akal, karena saban hari berhadapan dengan internet ya muncullah ide untuk menulis segala unek-unek tentang perdamaian (*dan budaya nirkekerasan) di internet saya. Melalui blog yang sudah lama tidak terupdate ini.
Tulisan ini bukan tulisan seorang profesional, hanya tulisan yang mencoba menangkap, memotret dan merekam apa yang terjadi selama ini dilingkungan sekitar terutama berkaitan dengan perdamaian dan nirkekerasan.
Pendapat saya secara pribadi, sebetulnya seperti lebih mudah bagi bangsa ini untuk belajar konflik, permusuhan dan kekerasan daripada belajar mengenai perdamaian dan nirkekerasan. Kenapa saya bisa berpendapat begitu? Lihatlah setiap hari di media televisi dan cetak berpuluh halaman, berpuluh berita dan informasi dipenuhi oleh berita atau informasi yang merupakan ‘hasil’ atau ‘aksi-aksi’ yang mengedepankan kekerasan, permusuhan, perselisihan, konflik, dlll. Informasi yang mengedepankan tentang budaya nirkekerasan, budaya perdamaian hampir nol persen. Segala macam bentuk informasi, berita hingga kemasan hiburan dibalut dengan cerita yang tidak lepas dari budaya permusuhan, kekerasan, dan sejenisnya. Itulah makanya saya katakan bahwa masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang banyak belajar untuk bercerita dan melakukan tindakan kekerasan, permusuhan, dan pertentangan.
Mari coba kita tilik satu persatu yang mungkin saat ini ada dipikiran saya dan mudah2an ada setuju he he he. Kalo tidak setuju silahkan sampaikan apa yang menjadi pendapat anda.
MEDIA TELEVISI
Media televisi adalah media yang paling efektif mengajarkan bagaimana kekerasan, permusuhan dan perselisihan dilakukan. Coba kita lihat, pernahkah di televisi dalam sehari tidak memberitakan tentang bagaimana aksi-aksi kekerasan dan permusuhan dilakukan di tengah masyarakat kita? Celakanya kadang bahkan media ini seolah menjadi corong atau wasit bagi para pelaku perselisihan dan tindak kekerasan. Masyarakat yang tadinya tidak tahu menahu akhirnya secara tidak sengaja digiring masuk ke dalam area persekutuan dan persetujuan terhadap kelompok tertentu untuk menentang kelompok lainnya. Dan ini nyata kita lihat di sekitar kita.
Contoh lain misalnya infotainment yang sering menjadikan aksi-aksi kekerasan dan permusuhan di kalangan artis sebagai komoditas berita yang diangkat secara terus menerus sehingga bukannya menjadi peredam untuk mendukung sebuah langkah-langkah perdamaian, tapi justru menjadi minyak yang menyulut bara permusuhan yang semakin berkobar. Saya sendiri melihat tidak hanya 1-2 tapi puluhan kasus diangkat mencerminkan bagaimana budaya permusuhan dan kekerasan di’pupuk’ oleh media ini. Sungguh bahwa bangsa ini akan sangat sulit keluar dari jurang permusuhan dan keterpurukan apabila cara-cara dan budaya permusuhan ini masih digelorakan secara tidak langsung maupun langsung oleh media ini.
Hal lain adalah hiburan-hiburan baik yang sifatnya lucu-lucuan maupun entertaint tapi nyatanya yang diekspos adalah aksi-aksi kekerasan seperti saling pukul, saling sorong, saling ejek, bullying, dan aksi-aksi lain yang sama sekali jauh dari aksi-aksi nirkekerasan. Hal ini seolah mengajarkan kepada generasi kita bahwa kekerasan semacam itu adalah hal biasa, ibaratnya gak gaul kalo tidak saling ejek, gak gaul kalo tidak mengungkapkan sesuatu yang jorok, dan sebagainya. Jadi contoh-contoh semacam itulah yang ditonjolkan oleh media kita. Dan sungguh bahwa inilah makanya bangsa kita terlalu banyak diajarkan budaya kekerasan dan permusuhan.
Sisi lain lagi. Sinetron Indonesia. Nah ini lebih parah lagi, saya melihat (paling enggak yang sempat saya amati, karena saya sudah lama meng’haram’kan melihat sinetron Indonesia, bahkan Nadapun saya larang melihat sinetron), sama sekali jauh dari pembelajaran dan pendidikan. Yang ditonjolkan selain budaya kemewahan, foya-foya adalah selalu permusuhan, perselisihan, pertikaian, yang mencerminkan sifat2 jahat yang kadang membayangkan itu ada didunia nyatapun sulit he he. Karena banyak sekali aksi-aksi, tipu muslihat, pikiran dan perilaku yang ditonjolkan adalah bagaimana menghancurkan yang lemah dan memperkuat yang kuat. Silahkan dicek, mana ada sinetron yang tidak ada licik-licikan, penindasan, kekerasan, dan aksi-aksi yang jauh dari budaya perdamaian dan nirkekerasan.
Untuk anak-anak, hmmm. Kecuali acara-acara macam si bolang sebetulnya acara untuk anak-anak sangatlah minim yang mengajarkan arti kebersamaan, toleransi, budaya perdamaian. Film anak-anak juga belum banyak yang berpihak untuk mengajarkan bagaimana anak2 hidup bertoleransi, saling menghargai. Yang ada film-film seperti tweety, tom and jerry, sinchan, doraemon yang secara tidak langsung banyak mengajarkan unsur permusuhan, budaya kekerasan, tidak menghormati satu dan lainnya. Jadi no wonder bahwa bangsa ini memang sudah sangat akrab dengan budaya kekerasan dan permusuhan bukan budaya perdamaian dan nirkekerasan. Nah sudah saatnyalah bahwa ada gerakan yang dapat memberikan jaminan bagi ‘berhentinya’ budaya mengajarkan kekerasan ini. Organisasi-organisasi yang ada sekarang ini cenderung reaktif saja terhadap kasus yang sudah terjadi dan diekspos, tapi tidak berusaha memerangi salah satu akarnya yakni ‘kampanye’ dari media massa yang secara tidak langsung terjadi ini. Mestinya organisasi ini menjadi benteng bagi anak bangsa untuk memberikan jaminan bahwa informasi, berita, dan segala macam yang ada di media televisi tidak melanggengkan budaya kekerasan dan permusuhan.
Ok sebetulnya masih banyak yang bisa diulas dari bagaimana budaya kekerasan dan permusuhan dipupuk oleh media televisi, silahkan ditambahkan.
MEDIA CETAK
Media cetak juga sebetulnya tidak sedikit yang ‘menonjolkan’ aksi-aksi kekerasan dan permusuhan. Bahkan kelompok-kelompok membuat media cetak sendiri yang nuansa ‘perselisihan’ dan beda pendapat dengan kelompok lainnya kalo dirasakan sangat ketara. Mulai berita dan informasi yang menyangkut isyu SARA maupun kepentingan politik atau bahkan informasi-informasi ringan. Perang statement dan argumentasi menjadi bagian yang menjadi komoditi bagi media cetak, dimana kadang sebetulnya itu akan mempertajam perselisihan diantara kelompok yang ada.
Surat kabar dan sejenisnya bisa kita lihat bahwa berita seputar perkelahian, perampokan, perampasan, permusuhan, pertikaian, baik antara masyakat dengan masyarakat, masyarakat dengan aparat, menjadi bagian yang selalu ‘penting’ diberitakan, bahkan lebih penting dari berita misal pencapaian prestasi anak negeri, berita tentang kondisi perpustakaan, berita tentang bagaimana alam indonesia yang bisa dikelola, dan sejenisnya. Bahkan beberapa bulan lalu terdapat berbagai kompetisi yang menunjukkan bagaimana prestasi anak negeri seperti perpustakaan SD terbaik, pustakawan terbaik, guru terbaik dan lain sebagainya tidak ada sama sekali gaung eksposnya oleh media massa. Media massa (cetak maupun non cetak) terlalu sibuk untuk meliput dan menampilkan berita yang ‘hanya’ begitu. Lebih penting menampilkan bagaimana geng motor melakukan kekerasan, kelompok tertentu melakukan kekerasan terhadap kelompok lainnya, berita ditemukannya mayat dipotong-potong, dlsbnya. Sungguh inilah cermin nyata kita. Media kita memang mengajarkan kita secara turun menurun dan terus menerus akan budaya2 yang sangat dekat dengan pertikaian, permusuhan, kekerasan, dll. Jadi tak heran kalo memang kita terbiasa belajar bermusuhan bukan berdamai, belajar berkelahi bukan bersahabat, belajar memukul bukan merangkul, hiks… menyedihkan yaaah!
Nah hal lain adalah bacaan anak-anak. Jarang sekali saat ini paling tidak saat ini yang saya liat. Bacaan anak-anak isinya semacam naruto atau cerita lain yang isinya ya pertarungan, permusuhan itu. Jarang sekali bacaan anak-anak yang mengajarkan arti kebersamaan, arti persahabatan, arti hidup berdampingan, dll. Kalopun ada, kadang tidak ‘ditampilkan’ dan disenangi anak-anak. Ini ironinya. Nah ini menurut saya juga PR para penggiat perdamaian dan budaya nirkekerasan untuk membuat lebih banyak lagi cerita untuk anak-anak yang ditulis secara menarik agar generasi kita tidak hanya dicekoki budaya kekerasan dan permusuhan. Ayooo… teman2 penggiat kalian pasti bisa.
Ya sebetulnya masih banyak yang bisa kita soroti dari bagaimana kita sudah terlalu akrab dengan budaya permusuhan dan kekerasan. Kita terlalu jauh dari budaya membina toleransi, perdamaian dan nirkekerasan. So pada kesempatan ini, saya mengajak rekan2 untuk paling tidak mengajarkan dan membentengi lingkungan dan keluarga kita agar jauh dari budaya permusuhan dan kekerasan, menjadi terbiasa dengan budaya perdamaian dan nirkekerasan.
SELAMAT HARI PERDAMAIAN INTERNASIONAL. DAMAI DI HATI, DAMAI DI BUMI, DAMAI DI DUNIA, MATI MASUK SURGA.
From Jogja With Love
Arif Surachman
Seorang Pustakawan