SIDEBAR
»
S
I
D
E
B
A
R
«
Press Release: 4th All Indonesia Breeder Koi Show, Yogyakarta 28-30 Agustus 2015
Aug 25th, 2015 by arifs

PRESS RELEASE: Jogjakarta Koi Club (JOKC)  mempersembahkan: 

4th All Indonesia Breeder Koi Show 2015 – Yogyakarta, 28-30 Agustus 2015

POSTER AIBKS 2015Yogyakarta, Jogjakarta Koi Club (JOKC) yang merupakan komunitas pecinta, pembudidaya, dan pelaku usaha Ikan KOI di wilayah DIY dan sekitarnya kembali dipercaya oleh Asosiasi Pecinta Koi Indonesia (APKI)  untuk mengadakan sebuah event Show berskala Nasional bertajuk “4th All Indonesia Breeder Koi Show 2015”.  Kegiatan yang disingkat dengan AIBKS 2015 ini diselenggarakan selama 3 hari pada tanggal 28-30 Agustus 2015 di Pendopo Graha Wana Bhakti Yasa, Jl. Kenari No. 14 Yogyakarta.  Menurut ketua panitia, Soemardjan (26/08/2015), kegiatan AIBKS 2015 menjadi ajang bagi para breeder/pembudidaya dan petani KOI di Indonesia untuk menunjukkan eksistensinya dan kualitas ikan yang KOI yang dihasilkan. Selain itu ajang ini akan menjadi media komunikasi bagi para breeder, petani dan juga pecinta KOI di Indonesia untuk saling berbagi informasi dan pengetahuan dalam menghasilkan ikan-ikan KOI yang berkualitas agar dapat bersaing dengan koi import yang berasal dari Jepang, China dan Eropa.

Kegiatan AIBKS 2015  di Yogyakarta ini didukung oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai lembaga yang ikut membina para pelaku budidaya perikanan. Selain ajang lomba atau kompetisi antar para pemilik dan pembudidaya di Indonesia, AIBKS 2015 juga memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk melihat dan mendapatkan koi-koi lokal Indonesia berkualitas dalam acara bazaar dan lelang. Soemardjan, berharap dengan  kegiatan AIBKS 2015 ini akan membawa dampak yang positif dan merangsang perkembangan industri perikanan khususnya ikan hias sehingga mampu memberikan kontribusi untuk pertumbuhan perekonomian di DIY dan Nasional pada masa yang akan datang. Lomba pada kegiatan AIBKS 2015 akan memperebutkan berbagai trophy untuk kategori Grand Champion, Mature Champion, Adult Champion, Young Champion, Baby Champion, Melati Prize, dan Best in Size dari berbagai jenis ikan KOI seperti Showa Sanshoku, Taisho Sanshoku, Kohaku, Utsuri, Kawarimono,  Doitsu, Shusui, Koromo, Asagi dan lain sebagainya.

 

 

SUSUNAN ACARA

Jumat, 28 Agustus 2015

  • 00 – 22.00 Fish Entry (Penerimaan Ikan)

Sabtu, 29 Agustus 2015

  • 00 – 08.30 Rapat Juri
  • 30 -11.30 Penjurian I
  • 30 – 13.00 Break
  • 00 – 17.00 Penjurian II
  • 00 – 19.30 Lelang dan Bazaar
  • 30 – 21.00 Award Ceremony
  • 00 – 21.00 Pameran untuk Umum

Minggu, 29 Agustus 2015

  • 00 – 14.00 Pameran untuk Umum
  • 00 – 14.00 Lelang dan Bazaar
  • 00 – selesai Fish Out
Meraih Kepercayaan Pimpinan?
Aug 23rd, 2015 by arifs

Masih terkait dengan Seminar Nasional di Polines. Ada satu pertanyaan dari peserta seminar yang berasal dari perpustakaan kabupaten yakni bagaimana meraih kepercayaan pimpinan? Terutama karena pimpinan lebih mudah memberikan kesempatan untuk melakukan tugas-tugas pelayanan keluar (eksternal) di banding di dalam perpustakaan (internal). Pimpinan lebih suka menugaskan pustakawan ke desa-desa, sekolah-sekolah dan lingkungan di luar perpustakaan. Sementara untuk di internal malah tidak diperhatikan.

Saya pada awalnya melihat bahwa ini hanyalah masalah orientasi dari pimpinan terkait dengan visi dan misi yang diemban oleh perpustakaan daerah/kabupaten dimana lebih banyak memberikan layanan langsung kepada masyarakat. Dimana caranya adalah dengan terjun langsung ke desa-desa, sekolah-sekolah dan lingkungan dimana masyarakat daerah itu dilayani. Artinya secara positif saya melihat bahwa ada keinginan dari pimpinan untuk memberikan yang terbaik untuk masyarakat di daerahnya.

Nah masalahnya adalah justru mungkin dari sisi pustakawan merasa tidak enjoy atau tidak nyaman ketika pimpinan hanya memberikan tugas-tugas di luar lingkungan perpustakaan, sementara untuk di dalam perpustakaan tidak. Pustakawan merasa adanya ketidakpercayaan pimpinan terhadap dirinya untuk mengembangkan karirnya di dalam perpustakaan. Ini yang akhirnya coba saya tangkap dan pikirkan setelah acara seminar. Jadi intinya pustakawan ini merasa perlu untuk mendapatkan kepercayaan dari pimpinan secara penuh dan berimbang.

Saya sendiri tidak mengetahui kondisi sesungguhnya terkait dengan apakah karir di dalam perpustakaan (pengembangan di internal) dianggap lebih menarik dibandingkan karir di luar perpustakaan (memberikan layanan langsung ke masyarakat). Saya hanya bertanya-tanya, apakah tugas-tugas keluar dianggap sebagai tugas bagi orang-orang yang ‘terbuang’ atau non-kualifikasi? Saya mencoba melihat kasus ini secara umum saja. Ada beberapa hal yang dapat dilakukan terkait bagaimana meraih kepercayaan pimpinan kita, yakni:

Pertama, kita harus paham terlebih dahulu bagaimana pola pikir dan visi pimpinan terkait perpustakaan atau lembaga yang dipimpinnya. Karena tanpa mengetahui cara berpikir dan visi pimpinan maka kita tidak tahu sejauh mana kita harus melakukan tugas-tugas dan kewenangan. Sering kali rasa ketidakpercayaan timbul diawali dengan ketidaktahuan kita terhadap visi pimpinan dan pola pikir kebijakan yang diterapkannya. Dengan mengetahui visi dan pola pikir, kita dapat lebih mudah mensinergikan pola kerja kita sebagai pustakawan.

Kedua, komunikasi. Komunikasi atau cara kita berkomunikasi dengan pimpinan menjadi kunci bagi kita dalam membangun kepercayaan pimpinan terhadap kita. Komunikasi yang baik akan membawa kemudahan bagi kita dan pimpinan dalam memahami suatu pekerjaan atau tugas-tugas yang diberikan. Seringkali kesalahan dalam berkomunikasi membuat pekerjaan dan tugas yang dilakukan oleh pustakawan tidak seperti yang diharapkan oleh pimpinan. Jadi komunikasi menjadi faktor penting untuk mendapatkan kepercayaan dari pimpinan.

Ketiga, tunjukkan bahwa kita mempunyai etos kerja dan kemampuan untuk bekerja dimanapun. Artinya pustakawan harus selalu mempunyai self-efficacy, dimana siap untuk melakukan apa yang diperintahkan dan diminta oleh pimpinan. Tunjukkan bahwa tugas yang diberikan oleh pimpinan akan mampu kita kerjakan. Ini adalah kunci penting dalam mendapatkan kepercayaan pimpinan terkait dengan tugas-tugas yang akan diberikan ke kita. Artinya ketika pimpinan mempunyai keyakinan akan kemampuan kita, maka kepercayaan untuk memberikan tugas-tugas kepada kita akan timbul dengan sendirinya. Jadi pimpinan akan melihat seseorang dari kemampuan dia dalam menyelesaikan pekerjaan dengan baik, bukan berdasar atas suka atau tidak suka.

Keempat, yang tidak kalah pentingnya adalah rasa saling percaya akan posisi dan wewenang masing-masing. Pustakawan harus percaya dan tahu posisinya dalam melakukan pekerjaannya, artinya sadar dan yakin bahwa pimpinan memberikan yang terbaik untuk kebaikan bersama. Jadi, bagaimana kita akan mendapatkan kepercayaan apabila kita sendiri tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh pimpinan kita?

Kelima, perilaku dan sikap yang baik akan memberikan nilai tersendiri bagi seseorang. Perilaku dan sikap kita di depan pimpinan akan sangat berpengaruh terhadap bagaimana pimpinan akan memperlakukan kita. Bukan berarti menjadi penjilat, akan tetapi perilaku dan sikap yang proporsional dan saling menghormati akan menjadi cara sendiri dalam meraih kepercayaan pimpinan.

Kesimpulannya, untuk kasus pertanyaan peserta di atas adalah bahwa agar pimpinan percaya kepada kita untuk memberikan tugas baik internal maupun eksternal ya dengan melihat kembali ke diri kita sendiri. Apakah ada yang salah dengan cara kita bekerja, apakah kita sudah berkomunikasi baik dengan pimpinan kita, sudah kah kita menyampaikan ide-ide kita terkait tugas-tugas yang diberikan, sudahkah kita menunjukkan bahwa kita mampu dan siap bekerja dimanapun, dan lebih lagi sudahkah kita pahami benar visi dan pola pikir pimpinan kita?

Itu semua hanya sebatas pandangan dan pengalaman yang telah saya berikan. Intinya untuk meraih kepercayaan membutuhkan proses, tidak ada cara instan dalam kita meraih sebuah kepercayaan. Apalagi merubah stigma negatif menjadi positif. Ada kalanya perlu satu dua tahun untuk melakukan itu. Tapi yakinlah, bahwa meraih kepercayaan itu adalah sebuah keniscayaan! Jadi jangan surut untuk mengusahakannya!

Memupuk Kebanggaan Pustakawan?
Aug 23rd, 2015 by arifs

Pada acara Seminar Nasional di Polines, Semarang, 19 Agustus 2015 lalu saya mendapatkan beberapa pertanyaan yang terkait bagaimana agar kita bisa merasa bangga menjadi seorang pustakawan (calon pustakawan).  Seorang mahasiswa meminta saran agar mereka semakin yakin bahwa keputusan untuk belajar di jurusan perpustakaan adalah tepat. Mereka melihat bahwa dari segi kemampuan teknis dan akademis mereka tidak dapat diragukan lagi. Intinya mereka ingin diyakinkan bahwa ada kebanggaan menjadi seorang pustakawan. Kemudian seorang Ibu dari sebuah perpustakaan kabupaten juga mengkonfirmasi mengenai bagaimana anak-anak ketika ditanya mengenai profesi yang diinginkan selalu menjawab profesi dokter, polisi, pengacara, dan lain-lain tanpa ada yang menyebut pustakawan. Beliau juga menanyakan apakah tidak memungkinkan penghasilan pustakawan melebihi dokter atau paling tidak sama dengan dokter?

Pada kesempatan ini, saya ingin sedikit berbagi pemikiran saya terkait pertanyaan-pertanyaan yang timbul atau muncul pada acara tersebut. Mudah2an jawaban yang dulu masih kurang lengkap dan terbatas waktunya dapat ditambah dengan jawaban yang saya berikan melalui Blog ini.

Profesi Pustakawan memang tidak banyak ‘dikenal’ seperti halnya profesi lain yang ketika disinggung maka semua orang akan langsung mengenalnya. Perlu usaha keras bagi pustakawan untuk menunjukkan bahwa profesi pustakawan adalah profesi yang menjanjikan. Tidak dapat dipungkiri bahwa kondisi di Indonesia belum mampu secara signifikan mengangkat profesi pustakawan sebagai profesi yang ‘sejajar’ dengan profesi-profesi lain yang banyak dikenal saat ini. Profesi pustakawan lebih banyak dilihat sebagai sebuah pekerjaan administratif yang ‘hanya’ berhubungan dengan pinjam meminjam buku, bahkan stereotype bahwa pustakawan adalah ‘penjaga buku’ masih banyak dijumpai di berbagai lingkungan.

Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk ‘menolong’ kondisi tersebut sehingga akan menimbulkan sebuah rasa bangga sehingga pustakawan mempunyai self-esteem yang tinggi? Pertama, mahasiswa calon pustakawan dan pustakawan harus mulai melakukan personal branding.  Mahasiswa harus mampu menyiapkan diri sebagai calon pustakawan yang mempunyai added-value, harus menyiapkan diri agar ketika lulus nantinya mempunyai kelebihan dibandingkan pustakawan pada umumnya. Calon pustakawan yang mempunyai banyak kelebihan misal dari segi teknologi informasi atau sistem informasi dan juga komunikasi akan membawa dampak yang positif nyata dalam dunia kerja nantinya. Banyak contoh yang memperlihatkan bahwa mahasiswa dengan bekal ilmu perpustakaan dan informasi mempunyai fleksibilitas untuk melakukan pekerjaan dalam berbagai lini terutama pada era globalisasi informasi sekarang ini. Demikian juga pustakawan, harus mampu menampilkan sosok yang memang mempunyai kelebihan di bandingkan profesi lainnya. Kalau dalam lingkungan rumah sakit misalnya, dokter dan perawat menjadi komponen penting dalam memberikan pelayanan kepada pasien, maka dalam lingkungan pendidikan misalnya, dosen dan pustakawan harus menjadi komponen penting dalam memberikan pelayanan kepada mahasiswa, pelajar, sivitas akademika dan masyarakat.  Pustakawan harus mampu menunjukkan bahwa kehadirannya di lingkungan lembaga induknya membawa dampak positif dan signifikan, bahkan menjadi bagian keberhasilan lembaga induknya. Dan ini hanya bisa dilakukan oleh pustakawan yang mampu memposisikan dirinya sebagai individu yang berbeda atau mempunyai nilai tambah.

Kedua, yang dapat dilakukan adalah dengan menunjukkan etos kerja profesional. Artinya stigma bahwa pustakawan hanya penjaga buku harus dihilangkan. Pustakawan harus mampu menunjukkan kemampuannya lebih dari sekedar melakukan pekerjaan peminjaman dan pengembalian buku. Dimana bagi sebagian orang hal ini terlihat sangat tidak menarik sebagai sebuah profesi. Pustakawan harus memperlihatkan sikap aktif dan kreatif dalam memberikan pelayanan kepada pengguna. Inovasi dan kreatifitas menjadi kunci yang akan memperlihatkan bagaimana peran pustakawan dalam memberikan sesuatu yang orang lain tidak dapat berikan. Misal dalam lingkungan sekolah, pustakawan harus menjadi bagian dari proses pembelajaran yang dilakukan oleh siswa. Pustakawan bisa menunjukkan sebagai ‘miss/mister serba tahu’ melalui informasi, pengetahuan dan wawasan yang dimilikinya terkait berbagai hal yang dibutuhkan siswa. Bahkan pustakawan dengan kemampuan seperti story telling, musik, ketrampilan tertentu seperti robotika, riset sederhana akan membuat para siswa merasa bahwa pustakawan adalah pekerjaan yang skill-full dan menarik.

Ketiga, adalah melalui sikap, perilaku dan penampilan yang menyakinkan. Pustakawan harus sudah mulai berpikir terkait dengan ‘uniform’ atau pakaian yang digunakan, cara bersikap dan berperilaku yang menarik. Tidak cukup dengan penampilan seadanya, sikap ketus dan perilaku yang membuat pengguna menjadi segan atau berjarak. Hal ini harus dihilangkan dari pustakawan. Sikap, perilaku dan penampilan yang menyakinkan akan membawa aura dan rasa percaya diri yang lebih. Kesan visual akan memberikan dampak yang sangat signifikan bagi seorang untuk dihargai oleh orang lain.

Ketiga hal kecil di atas apabila dilakukan secara baik, tentu akan membawa kepada dampak yang sangat positif ke depan dan tentunya membangkitkan rasa percaya diri dan bangga sebagai seorang pustakawan. Intinnya jadikan bahwa profesi kita adalah profesi yang membawa makna bagi diri sendiri, komunitas yang dilayani dan lingkungan dimana kita melakukan berbagai aktifitas.

Bagaimana dengan penghasilan pustakawan yang dirasa kurang atau jauh di bawah profesi lain seperti dokter dan pengacara misalnya? Satu inside yang menarik dari rekan saya Hendro Wicaksono dalam Seminar Nasional tersebut adalah bagaimana pustakawan mampu secara kreatif menghasilkan sesuatu diluar ‘gaji’ yang secara rutin diterima dari institusi. Dokter dan pengacara apabila hanya mengandalkan gaji dari lembaga yang menggajinya tentunya tidak seberapa, tapi justru melalui pengetahuan dan ketrampilannya dokter dan pengacara membuka praktek atau pekerjaan di luar itu. Nah ini juga bisa dilakukan oleh pustakawan. Berbagai bekal pengetahuan dan wawasan pustakawan dapat digunakan untuk mendapatkan ‘reward’ yang bisa jadi akan setara dengan penghasilan yang dilakukan profesi lain seperti misal dengan menjadi penulis, menjadi konsultan bidang perpustakaan, melakukan berbagai pendampingan pengembangan perpustakaan, melatih orang lain dalam memanfaatkan informasi, hingga melakukan pengembangan-pengembangan sistem informasi atau teknologi informasi, dll.

Saya sendiri merasakan hal yang sama. Apabila melihat gaji dari pustakawan tentu kita akan melihat seolah kita tidak mempunyai penghasilan yang signifikan dibandingkan profesi lain. Akan tetapi dengan melakukan berbagai aktivitas di luar kegiatan resmi di institusi ternyata banyak sumber-sumber penghasilan yang dapat dilakukan pustakawan melalui berbagai pengetahuan dan ketrampilan yang dimilikinya. Intinya bahwa penghasilan seseorang tidak hanya ditentukan oleh apa profesi seseorang tersebut, akan tetapi lebih pada upaya-upaya apa yang sudah dilakukan sehingga mampu menjadi orang yang berbeda atau memiliki nilai lebih.

Jadi, bangga menjadi pustakawan? Kenapa tidak? Kita bisa melakukannya bersama-sama dengan memberikan kesan positif di lingkungan kita terlebih dahulu. Mulai dari diri kita sendiri, mulai dari tempat kita sendiri, mulai dari yang sederhana dan mulai dari sekarang!

Video Konferensi Perpustakaan Digital Indonesia
Jul 29th, 2015 by arifs

Pada kurun waktu 4 tahun terakhir, saya mengikuti kegiatan Konferensi Perpustakaan Digital Indonesia setidaknya sebanyak 3 kali sebagai pemakalah Call for Paper. Berikut ini adalah beberapa video dan publikasi terkait kegiatan tersebut.

  • Konferensi Perpustakaan Digital ke-4 di Samarinda, Kalimantan Timur (Belum Ada)
  • Konferensi Perpustakaan Digital ke-5 di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur

  • Konferensi Perpustakaan Digital ke-7 di Banda Aceh, NAD (File PPT saja)

Membuat Akses Wifi melalui Notebook/Laptop dengan Windows 7
Jul 20th, 2013 by arifs

Wifi Logo

sumber gbr: wikipedia.org

Anda mungkin sering berpikir bagaimana agar laptop anda dapat berfungsi sebagai hotspot atau wifi router untuk perangkat lain seperti laptop/notebook, iphone, ipad, ataupun tablet PC. Nah saya mencoba memberikan sedikit cara yang terbukti berhasil. Awalnya ini sekedar aksi iseng-iseng karena keinginan untuk men-sharing akses internet di laptop ke perangkat tablet dan laptop lain di rumah. Ternyata langkahnya sangat mudah. Saya melakukannya di sistem operasi Windows 7. Read the rest of this entry »

»  Substance:WordPress   »  Style:Ahren Ahimsa
- valtrex buy online no prescription - where to buy asacol - cell spy phone - levitra buy -