SIDEBAR
»
S
I
D
E
B
A
R
«
Perguruan Tinggi dan Kapitalisasi Publikasi Ilmiah
March 16th, 2016 by arifs

Oleh Arif Surachman*

Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen DIKTI) mengeluarkan surat edaran nomor 152/E/T/2012 tentang kewajiban publikasi ilmiah bagi sivitas akademika di perguruan tinggi (PT). Mahasiswa wajib mempublikasikan karya tulis ilmiahnya dalam jurnal yang terbit secara nasional maupun internasional. Kebijakan ini sempat menuai pro dan kontra di kalangan akademisi di Indonesia. Bukan saja karena semakin sulitnya mahasiswa dalam menyelesaikan studi tapi juga karena ketidaksiapan jurnal nasional menampung calon karya tulis yang harus dipublikasikan. Sedangkan untuk menembus jurnal internasional tidaklah mudah karena diperlukan tidak saja kualitas yang bagus akan tetapi juga tata bahasa asing (Inggris) yang baik. Bahkan untuk menghindari publikasi asal-asalan, Dirjen DIKTI juga mengeluarkan kebijakan akreditasi bagi jurnal nasional dan syarat terindeks dalam ‘lembaga’ pengindeks jurnal seperti SCOPUS atau Web of Science sebagai alat ukur kualitas publikasi ilmiah.

Kompetisi Peringkat Global PT

Selain regulasi di atas, PT juga dihadapkan pada kompetisi tingkat global seperti QS World Rangking, 4ICU dan Webometric yang mengukur dan membandingkan kualitas PT melalui berbagai faktor pengukur, diantaranya adalah publikasi ilmiah yang dihasilkan dan terindeks dalam pengindeks jurnal internasional. Kompetisi ini bahkan mampu membuat PT menyiapkan tim dan alokasi anggaran khusus agar menjadi ‘pemenang’ dalam kompetisi lembaga-lembaga pemeringkat ini. Hasil rangking yang dirilis oleh lembaga pemeringkat menjadi bahan mengukur keberhasilan PT dalam tahun tertentu. Semua berkompetisi menjadi nomer wahid atau world class university dalam kompetisi global.

Jebakan Kapitalisasi Publikasi Ilmiah

Regulasi publikasi dan kompetisi global menyebabkan tidak sedikit PT dan komunitas akademis ‘terjebak’ ke dalam kebijakan instan untuk mengejar kedua hal tersebut. Dampak pertama alokasi besar-besaran anggaran PT untuk melanggan basis data daring yang terdiri dari jurnal elektronik, data elektronik maupun publikasi elektronik lainnya yang nilainya bisa mencapai milyaran rupiah. Basis data elektronik yang secara kebetulan penyedianya lebih banyak penerbit atau pemodal asing. Kemudian PT juga mengeluarkan kebijakan insentif bagi sivitas akademika yang publikasinya mampu menembus jurnal internasional. Suatu hal yang menyebabkan mereka secara massif melakukan upaya agar karyanya dapat ditampilkan dalam jurnal internasional. Sayang sekali karena keterbatasan jurnal standar internasional yang diterbitkan oleh penerbit atau pengelola di Indonesia, menjadikan mereka ‘menyalurkan’ berbagai karya publikasi hasil pemikiran dan penelitiannya pada jurnal-jurnal yang dikelola oleh penerbit dan pemodal asing. Padahal tidak sedikit dari pengelola jurnal tersebut mewajibkan penulisnya membayar jumlah tertentu agar karya publikasinya dapat ditampilkan. Bahkan tidak sedikit yang akhirnya terjebak melakukan publikasi melalui jurnal predator, sebuah jurnal yang tidak melalui review secara benar dan secara kualitas tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Kondisi di atas menyebabkan komunitas intelektual di PT Indonesia ‘terjebak’ dalam permainan kapitalisasi publikasi ilmiah. Dimana publikasi ilmiah dikuasai oleh mereka yang mempunyai modal dan jaringan luas. Komunitas intelektual Indonesia ‘dipaksa’ menjadi ‘pemasok’ sekaligus ‘konsumen’ bagi pengelola dan penyedia basis data daring yang ada di dunia. Dimana keduanya ‘mengharuskan’ penulis dan komunitas akademis di PT harus mengeluarkan anggaran dana yang tidak sedikit untuk sekedar melakukan publikasi dan mengakses sumber informasi ilmiah yang bisa jadi merupakan karyanya sendiri. Bayangkan apabila untuk dapat menampilkan publikasi ilmiah dalam jurnal internasional, penulis sedikitnya mengeluarkan biaya 200 USD per artikelnya. Artinya apabila dalam satu PT setiap tahun harus mempublikasikan minimal 500 karya ilmiah, maka PT harus menyediakan anggaran dana tidak kurang dari 100,000 USD (1,350 Milyar rupiah). Hal ini belum termasuk anggaran penelitian untuk menghasilkan publikasi ilmiah yang nilainya dapat lebih besar dari itu. Jumlah yang tidak sedikit apalagi jika dikalikan dengan potensi ribuan perguruan tinggi yang ada di Indonesia.

Jebakan kapitalisasi publikasi ilmiah ini semakin ‘diperparah’ dengan adanya trend kompetisi antar PT dalam menunjukkan eksistensinya dalam dunia pendidikan di tingkat internasional melalui keberadaan karya publikasinya. PT tidak berdaya untuk mengeluarkan anggaran dana rutin hanya sekedar mencari informasi dan menganalisa ‘ketenaran’ publikasi sivitas akademikanya dalam portal pengindeks jurnal. Satu PT perlu mengeluarkan setidaknya 50,000 USD (sekitar 675 juta rupiah) per tahun untuk berlangganan akses pengindeks jurnal. Biaya ini belum termasuk untuk melanggan jurnal-jurnal internasional yang nilainya dapat mencapai milyaran rupiah per tahun. Jadi dapat dibayangkan berapa banyak anggaran PT yang ‘menguap’ ke luar negeri dan menjadi ‘makanan’ pelaku kapitalisasi publikasi ilmiah. Di sisi lain, PT yang mempunyai anggaran dana terbatas jelas tidak akan mampu mengikuti pola persaingan global yang berbau kapitalisasi ini.

Pemerintah harus mengupayakan agar PT Indonesia tidak menjadi ‘sapi perahan’ para pemodal besar informasi asing. Pemerintah harus menciptakan iklim agar semakin banyak tumbuh jurnal berstandar internasional yang dikelola oleh pelaku dalam negeri. Selain itu, pemerintah harus dapat memfasilitasi munculnya penyedia portal pengindeks jurnal nasional yang mampu mengimbangi penyedia portal pengindeks jurnal internasional (SCOPUS & Web Of Science). Pemerintah mempunyai peran penting agar hasil karya publikasi anak bangsa tidak hanya menjadi komoditas pemodal asing dan mencegah lebih banyak anggaran ‘lari’ ke luar negeri.

* Pustakawan  Universitas Gadjah Mada

** Artikel ini sebelumnya dimuat di Pustakawan.ID


Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

»  Substance:WordPress   »  Style:Ahren Ahimsa