Blog Arif Surachman

seorang pustakawan - ayah - abdi negara

Cerita masa kecil: “Mahal”nya Pergaulan (1)

Cerita masa kecil: “Mahal”nya Pergaulan (1)

Masa kecil bagi setiap orang selalu mempunyai kesan sendiri, tidak terkecuali untuk Maman, seorang yang menghabiskan masa kecilnya di sebuah kampung tidak jauh dari Gunung Slamet. Seperti halnya anak-anak lainnya, Maman yang pada kala itu berumur kurang lebih 10 tahun sedang hobi-hobinya menghabiskan waktu bermain bersama teman-teman kampungnya. Yang membedakan Maman kecil dengan teman-temannya adalah latar belakang ekonomi yang tidak ‘seberuntung’ teman-teman lain yang berkecukupan. Bapaknya yang tukang tambal ban dan ibunya yang guru agama di SD depan rumah, penghasilannya ‘hanya’ cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari untuk Maman dan 7 saudara-saudaranya. Ketika teman-teman ramai membeli mainan-mainan terbaru, seringkali Maman kecil hanya bisa melihat atau sekedar ikut memegang dan mengagumi mainan itu. Hatinya cukup puas dan bahagia ketika ikut bermain dengan teman-teman, walaupun kadang hanya melihat dan menonton saja.
Suatu ketika Maman kecil pergi untuk bermain dengan teman-temannya, tidak jauh dari rumahnya. Disana sudah berkumpul teman-temannya ada yatno, eman, nono, indra, dan satu teman baru namanya Aris. Aris belum lama tinggal di kampungnya, baru beberapa bulan pindah kesitu. Ternyata teman2 sedang asyik melihat mainan Aris yang baru saja dibelikan orang tuanya berupa pedang-pedangan yang terbuat dari plastik dan dapat bersinar ketika dipencet tombolnya. Bagi Maman yang biasa bermain pedang hanya dari pelepah pisang atau batang bambu tentu kehadiran pedang yang sangat ‘modern’ itu membuat kagum dan ingin juga sesekali memainkannya.
Maman kecil akhirnya memberanikan diri bilang ke Aris untuk meminjamnya. “Ris, aku pinjam dong pedang2anmu itu, boleh tidak?”. Aris yang belum puas bermain dengan pedang-pedangannya menjawab “wah nanti ya, ini aku masih ingin bermain jee”. Walaupun sedikit kecewa, Maman kecil tetap menunggu dengan berharap nanti Aris bosan memainkannya dan meminjamkan mainan itu. Maman hanya bisa melihat ketika Aris bermain pedang-pedangan dengan Yatno, Eman, dan teman lainnya.
Setelah menunggu beberapa lama, rupanya Aris sudah sedikit bosan dan kemudian menyerahkan pedang-pedangan itu ke Maman, “Nih man… aku pinjemin… awas, jangan sampai rusak loh!….”. Dengan berbinar Maman menerima pedang ‘modern’ itu dari Aris… “terima kasih ya Ris… sudah boleh pinjam pedangnya.. iya aku gak akan merusaknya lah”.
Akhirnya Maman kecil bisa juga bermain dengan pedang modern pinjaman itu… bergaya ala pendekar diputar-putar dan disabitkanlah pedang2an itu ke teman-temannya…. hyaat… hyaaat….dess…desss. Aris yang melihat Maman kecil memutar-mutarkan pedangnya teriak dengan was-was…. “Maaaannn!… ati-atiii… nanti rusak pedangku kalau kamu mainkan begitu!” Eman dan Yatnopun ikut mengingatkan….”Iya Man… ati-ati… nanti rusak suruh ngganti lho…!”. Belum juga habis mereka mengingatkan… karena Maman kecil terlalu bersemangat dengan mainan ‘baru’nya…tiba-tiba terdengar bunyi ‘krek…..krekkk!!. Rupanya ganggang pedang modern milik aris copot dan patah ganggangnya…. Maman kecil bingung. Aris dan teman-temannya berteriak….”naaah… apa aku bilanggg? kamu sih gak hati-hati… rusak tuh jadinya pedang baruku… kata Aris. “Pokoknya kamu harus ganti Man…, aku gak mau tahu. Kamu gak boleh main kesini kalau belum gantiiin pedangku…” begitu ujar Aris dengan ketus. Maman kecil menyahut “iya-iyaa… nanti aku ganti… aku pulang dulu yaaa….”
Maman kecil pulang ke rumah dengan hati gundah gulana dan bingung. Darimana bisa dapat uang buat mengganti mainan Aris yang dirusaknya. Uang jajannya yang kadang ada kadang tidak… kalaupun ada tidak sampai 5 rupiah per hari, tidak mungkin bisa untuk membeli mainan yang harganya bisa jadi sampai sampai ratusan rupiah. Mau minta ke bapak atau ibunya juga tidak mungkin, karena pasti akan dimarahin dan belum tentu mereka mempunyai uang sebesar itu untuk membelikan mainan. Kalaupun ada tentu buat kebutuhan lain yang lebih mendesak.
Berhari-hari Maman kecil bingung mencari cara agar bisa mengganti pedang yang dirusakannya agar bisa kembali bermain bersama Aris dan teman-temannya yang lain. Bahkan untuk sekedar lewat di depan rumah Arispun, Maman kecil tidak berani. Maman kecil akhirnya mencoba pindah bermain dengan teman di sisi kampung yang lain… setidaknya dia masih bisa bermain walaupun belum bisa bermain dengan teman-temannya yang lama.
Waktu berlalu hingga sampai lebih dari 3 bulan, Maman kecil tetap belum bisa mengganti mainan yang dirusakannya, sampai suatu ketika Maman kecil tahu bahwa Ayahnya baru saja menjual sebagian ‘tanah pekarangan’ warisan orang tua di lereng Gunung Slamet untuk biaya kuliah kakaknya di Jogja. Maman kecil tahu bahwa uang hasil penjualan diserahkan ke ibunya. Maman kecil memberanikan diri untuk meminta uang ke ibunya agar bisa mengganti mainan pedang punya Aris yang dirusakannya. Tujuannya hanya satu, agar bisa kembali bermain bersama yatno, eman, dan teman-teman lainnya. Maman kecilpun menemui ibunya dan bilang “Bu…. boleh gak Maman minta uang 1000 rupiah?”. Ibunya heran dan bertanya “buat apa Man…. kamu minta uang sebanyak itu?, hasil penjualan tanah kemaren itu untuk mbayar SPP kakakmu di Jogja yang lagi kuliah”. “Anu bu…. jadi ceritanya Maman itu dulu ngrusakkin mainannya Aris… dan Maman harus menggantinya. Kalau Maman enggak mengganti… Maman gak bisa main lagi sama yatno dan lain-lain.” Ibunya menyahut….”Maan… maan… kamu itu kok ya gak hati-hati… jadi selama ini kamu main di kampung sebelah itu karena kamu gak berani main lagi sama yatno dan kawan-kawan gara-gara kamu rusakin mainan Aris?”. Iya Bu… sahut Maman. Ibunya terus bertanya kembali “emang mainan apa sih yang kamu rusakin…? apa tidak bisa diperbaiki?” “Sebetulnya bisa sih Bu… cuman aris maunya mainannya diganti baru… karena yang Maman rusakin khan baru dibeli”, sahut Maman. “Ya sudah… kalau begitu besok kita belikan mainan pengganti yaa… mudah2an uang sisanya masih cukup buat beli mainannya… besok kamu bantu-bantu Bapak… nanam pohon di tempat pak Lurah biar bisa nambah-nambah uang buat ganti mainan itu”, sahut ibunya. “Baik Bu, sahut Maman kecil dengan riang”.

Esoknya… sepulang sekolah Maman dipanggil Bapak… “Man… sini! Kamu ikut bapak ke tempat pak lurah yaaa? Pak lurah minta ditanamin mangga di belakang rumahnya”, kata Bapaknya. “Tapi maman udah janjian sama teman mau main je pak…”, sahut Maman. “Lho… kata ibumu kemaren kamu mau bantuan Bapak… ayoo bantuin Bapak dulu… nanti abis dari tempat pak lurah kamu boleh main”, sahut Bapaknya. “Baik pak…nanti Maman nyusul yaa…. Bapak berangkat dulu saja ke tempat pak lurah,” kata Maman. “Lho.. kenapa tidak bareng saja…?” kata Bapak. “Anu pakkk….bentar mau bilang temen2 dulu”, kata Maman. “Yo wis… tapi bener lho nanti nyusul Bapak”, sahut Bapak. “Nggeh Pak…”, Maman kembali menimpali.

Bapak berangkat ke tempat pak lurah… dan Maman tak beberapa lama menyusul tapi lewat jalan yang berbeda dengan Bapaknya, karena harus sedikit memutar. Rupanya untuk ke rumah pak Lurah… Maman harus lewat depan rumah Aris… dan karena belum beli pedang pengganti yang dirusakannya… Maman tidak berani lewat depat rumah aris. Di jalan Maman ketemu dengan Yatno… “woiii maaan…. mau kemana? kamu dicariin sama Aris itu katanya ditunggu gantiin pedangnya yang kamu rusak”, kata Yatno. “iyaa…iyaaa… ini aku juga nanti mau minta beliin ibu untuk ganti pedangnya…. uangnya baru ada. bilangin ke aris pasti nanti sore atau besok sudah aku ganti kok… ibu kemaren bilang mau kasih uang aku untuk beli”, kata Maman. Maman pergi meninggalkan Yatno ke tempat pak lurah dan membantu Bapaknya menanam pohon mangga pesanan pak lurah.

Sepulang dari tempat pak lurah, Maman bergegas menemui ibunya. “Bu… jadi beli pedang untuk aris gak? tadi Maman ketemu Yatno dan katanya aris nyariin aku suruh ganti pedangnya?, Ibu masih ada uang khan buat belikan Maman pedangnya?” kata Maman. “Iya maan… ibu ingat kok… belinya dimana mainannya?”, kata Ibu. “Itu loh bu… di pasar sana itu”, kata Maman. ” Ya udah… bentar ya ibu beresin ini dulu nanti kita ke pasar beli mainan buat Aris”, kata Ibu.

“Maan…. ayooo kita ke pasar”, teriak Ibu memanggil Maman. Maman kecil bergegas menghampiri Ibunya….”ayoo buu… Maman udah janji kalau gak hari ini ya besok gantiin mainannya”. Akhirnya Maman dan Ibunya ke pasar… di sana sudah ada penjual mainan yang biasa mangkal di sekitar pasar. Mamanpun menunjukkan ibunya mainan seperti yang dimiliki Aris…”itu lho Bu…mainannya”, kata Maman. “Lho kok harganya mahal Man…? Lha ini uang Ibu tinggal 1500 rupiah,  habis dong kalau buat beli mainan ini?”, kata Ibu. “lha tapi gimana Bu? Maman udah janji jee…. dan Maman pengen kembali main sama yatno, eman dan lainnya?”, sahut Maman. ” Ya sudah…ini uangnya buat beli ini saja gak apa-apa, mudah2an besok Ibu ada rejeki buat penggantinya”, sahut ibunya. Akhirnya Maman kecil pulang dari pasar dengan membawa pedang mainan baru untuk pengganti pedang aris yang dirusaknya. “Maan… besok-besok hati2 ya… gak usah pinjam mainan teman2mu… kalau rusak nanti repot dan harus ganti”, kata Ibunya. “Nggeh Bu…,” sahut Maman.

Begitu sampai rumah… Maman kecil langsung pamit ke Ibunya untuk pergi ke rumah Aris. “Bu, Maman… anter mainan ke tempat Aris dulu yaaa,” kata Maman. “Iyaa… jangan sore-sore pulangnya yaaa”, kata ibunya. Maman kecil sudah pergi berlari tanpa menunggu jawaban ibunya. Sampai di rumah aris… Maman tidak melihat teman-temannya ada disitu, arispun tidak ada. Tapi rupanya Ibunya Aris ada disitu. “Cari siapa nak?”, kata Ibu Aris. “Aris ada tidak ya Bu? saya mau mengganti mainan aris yang dulu saya tidak sengaja rusak”, kata Maman kecil dengan takut-takut. “Oh jadi ini toh yang diceritain Aris merusak mainan barunya. Lain kali kalau pinjam hati-hati yaa..!” sahut Ibu Aris. “Aris tadi pergi sama Yatno ke rumah Eman… coba kamu cari kesana”, kata Ibu Aris selanjutnya. “Baik Bu… saya kesana”, kata Maman kecil. Maman bergegas ke rumah Eman… disana sudah ada Aris, Yatno dan teman-teman lainnya. Maman kemudian menyapa mereka “hai… aku mau ngganti mainan aris…, ini ris…mainan pengganti yang aku rusakin kemarin,” kata Maman sambil menyodorkan pedang2an yang baru dibeli bareng Ibunya. Aris menerima mainan dari Maman dan berkata, “lho Man, ini pedang2annya kok beda dengan yang punyaku kemaren ya… tapi tidak apa-apa, aku udah dibelikan yang baru kok sama ibuku”, sahut Aris. “Lho jadi gimana ini ris?” sahut Maman. “Udah gak apa-apa nanti, ini nanti biar disimpan aja”, kata Aris. “Ok, terima kasih ya ris… maaf ya baru bisa mengganti dan cuman begitu pedangnya, soalnya aku nunggu ibuku punya uang,”, sahut Maman. “Ya udah… yuk kita main lagi saja”, kata Aris. Maman kecilpun akhirnya kembali bisa bermain dengan teman-temannya setelah beberapa bulan tidak bisa bermain.

Menjelang maghrib, Maman pulang ke rumah. Sampai rumah, karena merasa lapar, Maman kecil tanya ke Ibunya, “Bu, Maman lapar…. Maman mau makan dulu. Lauknya apa Bu?”, kata Maman. “Duh man… uang yang buat beli lauk tadi itu yang buat nambahin beli mainanmu itu lho…ibu gak ada uang buat beli lauk. Itu nasinya masih anget, nanti dicocol pakai minyak dikasih garam aja yaaa?”, kata ibunya. “Baiklah bu… gak apa-apa, Maman makan pakai nasi sama garam sudah enak kok… maafkan Maman ya Bu, udah merepotkan Ibu,..” sahut Maman. Maman kecil berjanji ke depan harus bisa beli mainan sendiri, dan ingat bahwa kadang untuk berteman dan bergaul perlu ‘modal’ yang diluar kemampuannya. Maman kecil hanya berjanji dalam hati kalau kelak dia tidak boleh menyusahkan kembali orang tuanya. Maman harus sukses, jadi nanti anak-anaknya tidak boleh merasa kesusahan kalau mau beli mainan.

Yogyakarta, 10 Oktober 2018

About the author

Arif Surachman administrator

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.