Blog Arif Surachman

seorang pustakawan - ayah - abdi negara

Pustakawan Radikal melawan “Disrupsi’

Pustakawan Radikal melawan “Disrupsi’

Mumpung belum terlupa. Judul pustakawan Radikal melawan “Disrupsi” saya ambil setelah beberapa waktu lalu menjadi moderator seminar nasional yang diadakan oleh Forum Perpustakaan UGM dengan menghadirkan tiga narasumber dengan latar belakang yang cukup berbeda yakni pertama Dr. Taufik Asmiyanto, dosen Jurusan Ilmu Perpustakaan Universitas Indonesia, yang belum lama menyelesaikan studi S3nya dalam bidang Filsafat Informasi, kedua adalah Aditya Nugraha, Ph.D., seorang pustakawan di Universitas Kristen Petra, yang belum lama juga menyelesaikan studi S3 dalam bidang information studies di Curtin University, Australia, dan ketiga adalah Muhidin M. Dahlan, seorang penulis, novelis, pustakawan komunitas, arsiparis partikelir dan juga aktivis literasi yang sama sekali tidak berlatar belakang pendidikan perpustakaan namun sangat dekat dengan dunia perpustakaan.

Ketiganya memaparkan pikiran dan idenya terkait bagaimana pustakawan menjaga muruahnya sebagai pustakawan dalam era disrupsi, dengan sudut pandang yang cukup berbeda. Setidaknya ada dua sisi yakni pandangan yang lebih dekat pada kalangan akademisi dan perguruan tinggi yang diwakili oleh dua doktor perpustakaan, dan satu sisi pandangan dari seorang aktivis kepustakawanan yang berkembang dari dunia komunitas di masyarakat umum secara langsung.

Pandangan pertama Dr. Taufik Asmiyanto dan juga Aditya Nugraha, Ph.D. banyak menyoroti bagaimana perkembangan teknologi informasi dan komunikasi akan sangat berpengaruh pada bagaiman pustakawan harus berperan dalam masa sekarang dan masa yang akan datang. Pustakawan akan dihadapkan pada teknologi yang mungkin akan tergantikan oleh teknologi artificial intelligence (AI) dan kemajuan teknologi informasi lainnya. Pada sisi ini, berpandangan bahwa pustakawan harus mampu melakukan berbagai penyesuaian dalam perannya di perpustakaan. Pustakawan harus mampu mengikuti perubahan teknologi yang dari waktu ke waktu sangat cepat perubahannya. Pada intinya bahwa pustakawan yang bertahan adalah pustakawan yang mampu melakukan adaptasi terhadap pesatnya perkembangan teknologi informasi dan pengetahuan.

Pada sisi yang lain, yang membuat saya sebagai moderator cukup terhenyak dan seolah tersadar dan kadang dilupakan oleh kita adalah pandangan dari seorang Muhidin M. Dahlan yang memandang bahwa pustakawan harus kembali kepada fitrahnya sebagaimana pustakawan berasal dari kata pustaka dan wan yang berarti tanpa pustaka (buku) maka pustakawan tidaklah menjadi pustakawan. Pustakawan adalah Buku, dan buku adalah roh pustakawan. Pustakawan terlalu asyik dengan ‘memprotes’ tidak dihargailah, gajinya kecilah, dianggap hanya sekilaslah, atau ribut dengan apakah pustakawan itu profesi atau bukan tapi lupa dengan eksensi diri pustakawan. Pustakawan harus mampu menyanyi dalam sunyi, dimana ketika tidak ada pemustakapun, maka dirinya sendiri sebetulnya adalah pemustaka itu. Tidak ada alasan untuk berdiam diri dalam kesunyiannya. Muhidin M. Dahlan juga menyampaikan bahwa pustakawan adalah kurator pengetahuan, dalam pustakawanlah seharusnya tercermin pengetahuan-pengetahuan yang ada di dalam buku-buku yang dilayankan kepada komunitasnya. Pustakawan juga semestinya sudah selalu hadir dalam peristiwa-peristiwa buku, tapi kenyataannya jarang didengar pustakawan yang muncul dalam peristiwa-peristiwa buku.

Istilah Pustakawan Radikal ini jugalah yang disampaikan oleh seorang Muhidin M. Dahlan. Pustakawan Radikalah yang dapat melawan adanya disrupsi… begitulah setidaknya menurut beliau. Kemajuan teknologi informasi memang akan membuat pustakawan bekerja dengan ‘mungkin’ lebih baik, tapi tanpa teknologi juga tidak apa-apa. Karena bagi pustakawan Radikal, yang penting adalah kembali kepada pustakawan itu sendiri, dimana mestinya tujuan hidupnya adalah kebahagiaan. Maka dalam kesunyiannya, pustakawan tetap akan berguna bagi pemustakanya, bahkan setidaknya bagi dirinya sendiri. Tidak usah terlalu takut dengan jumlah pemustaka yang akan datang, karena apabila tujuan perpustakaan adalah membuat keramaian maka jadilah penyelenggara sekaten saja yang mungkin satu tahun sekali terjadi keramaiannya.

Pustakawan Radikal menurut Muhidin ini dibagi menjadi dua, yakni pustakawan pasif dan pustakawan aktif. Pustakawan pasif menurut Muhidin adalah pustakawan yang asyik dalam ruang dan nyanyian sunyi, fokus pada apa yang dihadapinya. Pustakawan pasif tidak perduli apakah perpustakaan menjadi ramai atau tidak, karena yang paling penting adalah bagaimana pustakawan mampu memberikan kontribusinya pada pemustaka. Pustakawan pasif beraktifitas dalam sunyinya dengan menciptakan dan mengumpulkan pengetahuan-pengetahuan yang ada dalam perpustakaannya, untuk kemudian diberikan kepada masyarakat agar lebih paham tentang apa-apa yang ada dalam perpustakaannya. Pustakawan menjadi seorang kurator pengetahuan yang akan membantu masyarakat dalam menemukan informasi yang tentunya menarik dan sebelumnya tidak diketahuinya. Bahkan pustakawan pasif akan sangat produktif dalam kesunyiannya.

Sedangkan pustakawan aktif, bagi Muhidin adalah pustakawan yang rela dengan tenaga, keringat dan dirinya mendistribusikan pustaka-pustaka, ke pelosok-pelosok daerah yang mungkin orang banyakpun tidak pernah mendengar namanya sebelum akhirnya muncul dalam berita-berita. Pustakawan aktif yang tanpa kenal lelah mengenalkan kepada masyarakat berbagai pengetahuan melalui pustaka-pustaka yang dibawanya dengan perantara apasaja. Intinya adalah mereka yang berjuang mencurahkan tenaga dan pikirannya agar anak-anak diberbagai penjuru negeri yang tidak terjangkau oleh teknologi akan mampu dan mempunyai kesempatan yang sama dalam memperoleh informasi dan pengetahuan seperti layaknya orang-orang kota yang sudah canggih dengan teknologinya.

Jadi untuk apa menjadi risau dengan pustakawan. Profesi atau bukan, apabila kita mencintai pekerjaan itu dan bahagia dengan pekerjaan itu maka tidak akan pernah takut terdisrupsi oleh secanggih apapun teknologi. Perkembangan teknologi dan isyu disrupsi memang perlu menjadi perhatian pustakawan, akan tetapi tidak perlu menjadi ‘parno’ atau ‘paranoid’ apabila kita kembali kepada fitrah pustakawan sebagai agen perubahan dan agen pengetahuan, dengan atau tanpa teknologi. So, saya pikir ada benarnya bahwa kita harus menjadi pustakawan radikal apabila ingin melawan disrupsi yang menjadi ‘monster’ menakutkan bagi sebagian profesi ini.

Akhirnya mari kita berpikir kembali…. pustakawan seperti apa sebenarnya kita selama ini? Apakah pustakawan yang hanya pandai mengeluh dan lupa pada fitrahnya…. yang terlalu dininabobokan dengan wacana-wacana yang diperdebatkan melalui diskusi-diskusi panjang yang kadang tidak ‘ada’ hasilnya selain kegalauan? Atau pustakawan yang tidak ada kata tidak ada yang mungkin… semua bisa kita lakukan, dan kita siap menghadapi apapun rintangan yang ada di depan kita. Mari kita move on dengan melihat realita yang kita hadapi… carilah jalan keluar dari jalan kita sendiri… bernyanyilah dalam sunyi. Karena hanya kebahagian dan kecintaan yang akan memberikan kita kekuatan untuk menjaga kita sebagai pustakawan!

Kotagede, Yogyakarta, 11.11.2018 – 18.50

 

About the author

Arif Surachman administrator

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.