Blog Arif Surachman

seorang pustakawan - ayah - abdi negara

Author Archive Arif Surachman

Pustakawan Radikal melawan “Disrupsi’

Mumpung belum terlupa. Judul pustakawan Radikal melawan “Disrupsi” saya ambil setelah beberapa waktu lalu menjadi moderator seminar nasional yang diadakan oleh Forum Perpustakaan UGM dengan menghadirkan tiga narasumber dengan latar belakang yang cukup berbeda yakni pertama Dr. Taufik Asmiyanto, dosen Jurusan Ilmu Perpustakaan Universitas Indonesia, yang belum lama menyelesaikan studi S3nya dalam bidang Filsafat Informasi, kedua adalah Aditya Nugraha, Ph.D., seorang pustakawan di Universitas Kristen Petra, yang belum lama juga menyelesaikan studi S3 dalam bidang information studies di Curtin University, Australia, dan ketiga adalah Muhidin M. Dahlan, seorang penulis, novelis, pustakawan komunitas, arsiparis partikelir dan juga aktivis literasi yang sama sekali tidak berlatar belakang pendidikan perpustakaan namun sangat dekat dengan dunia perpustakaan.

Ketiganya memaparkan pikiran dan idenya terkait bagaimana pustakawan menjaga muruahnya sebagai pustakawan dalam era disrupsi, dengan sudut pandang yang cukup berbeda. Setidaknya ada dua sisi yakni pandangan yang lebih dekat pada kalangan akademisi dan perguruan tinggi yang diwakili oleh dua doktor perpustakaan, dan satu sisi pandangan dari seorang aktivis kepustakawanan yang berkembang dari dunia komunitas di masyarakat umum secara langsung.

Pandangan pertama Dr. Taufik Asmiyanto dan juga Aditya Nugraha, Ph.D. banyak menyoroti bagaimana perkembangan teknologi informasi dan komunikasi akan sangat berpengaruh pada bagaiman pustakawan harus berperan dalam masa sekarang dan masa yang akan datang. Pustakawan akan dihadapkan pada teknologi yang mungkin akan tergantikan oleh teknologi artificial intelligence (AI) dan kemajuan teknologi informasi lainnya. Pada sisi ini, berpandangan bahwa pustakawan harus mampu melakukan berbagai penyesuaian dalam perannya di perpustakaan. Pustakawan harus mampu mengikuti perubahan teknologi yang dari waktu ke waktu sangat cepat perubahannya. Pada intinya bahwa pustakawan yang bertahan adalah pustakawan yang mampu melakukan adaptasi terhadap pesatnya perkembangan teknologi informasi dan pengetahuan.

Pada sisi yang lain, yang membuat saya sebagai moderator cukup terhenyak dan seolah tersadar dan kadang dilupakan oleh kita adalah pandangan dari seorang Muhidin M. Dahlan yang memandang bahwa pustakawan harus kembali kepada fitrahnya sebagaimana pustakawan berasal dari kata pustaka dan wan yang berarti tanpa pustaka (buku) maka pustakawan tidaklah menjadi pustakawan. Pustakawan adalah Buku, dan buku adalah roh pustakawan. Pustakawan terlalu asyik dengan ‘memprotes’ tidak dihargailah, gajinya kecilah, dianggap hanya sekilaslah, atau ribut dengan apakah pustakawan itu profesi atau bukan tapi lupa dengan eksensi diri pustakawan. Pustakawan harus mampu menyanyi dalam sunyi, dimana ketika tidak ada pemustakapun, maka dirinya sendiri sebetulnya adalah pemustaka itu. Tidak ada alasan untuk berdiam diri dalam kesunyiannya. Muhidin M. Dahlan juga menyampaikan bahwa pustakawan adalah kurator pengetahuan, dalam pustakawanlah seharusnya tercermin pengetahuan-pengetahuan yang ada di dalam buku-buku yang dilayankan kepada komunitasnya. Pustakawan juga semestinya sudah selalu hadir dalam peristiwa-peristiwa buku, tapi kenyataannya jarang didengar pustakawan yang muncul dalam peristiwa-peristiwa buku.

Istilah Pustakawan Radikal ini jugalah yang disampaikan oleh seorang Muhidin M. Dahlan. Pustakawan Radikalah yang dapat melawan adanya disrupsi… begitulah setidaknya menurut beliau. Kemajuan teknologi informasi memang akan membuat pustakawan bekerja dengan ‘mungkin’ lebih baik, tapi tanpa teknologi juga tidak apa-apa. Karena bagi pustakawan Radikal, yang penting adalah kembali kepada pustakawan itu sendiri, dimana mestinya tujuan hidupnya adalah kebahagiaan. Maka dalam kesunyiannya, pustakawan tetap akan berguna bagi pemustakanya, bahkan setidaknya bagi dirinya sendiri. Tidak usah terlalu takut dengan jumlah pemustaka yang akan datang, karena apabila tujuan perpustakaan adalah membuat keramaian maka jadilah penyelenggara sekaten saja yang mungkin satu tahun sekali terjadi keramaiannya.

Pustakawan Radikal menurut Muhidin ini dibagi menjadi dua, yakni pustakawan pasif dan pustakawan aktif. Pustakawan pasif menurut Muhidin adalah pustakawan yang asyik dalam ruang dan nyanyian sunyi, fokus pada apa yang dihadapinya. Pustakawan pasif tidak perduli apakah perpustakaan menjadi ramai atau tidak, karena yang paling penting adalah bagaimana pustakawan mampu memberikan kontribusinya pada pemustaka. Pustakawan pasif beraktifitas dalam sunyinya dengan menciptakan dan mengumpulkan pengetahuan-pengetahuan yang ada dalam perpustakaannya, untuk kemudian diberikan kepada masyarakat agar lebih paham tentang apa-apa yang ada dalam perpustakaannya. Pustakawan menjadi seorang kurator pengetahuan yang akan membantu masyarakat dalam menemukan informasi yang tentunya menarik dan sebelumnya tidak diketahuinya. Bahkan pustakawan pasif akan sangat produktif dalam kesunyiannya.

Sedangkan pustakawan aktif, bagi Muhidin adalah pustakawan yang rela dengan tenaga, keringat dan dirinya mendistribusikan pustaka-pustaka, ke pelosok-pelosok daerah yang mungkin orang banyakpun tidak pernah mendengar namanya sebelum akhirnya muncul dalam berita-berita. Pustakawan aktif yang tanpa kenal lelah mengenalkan kepada masyarakat berbagai pengetahuan melalui pustaka-pustaka yang dibawanya dengan perantara apasaja. Intinya adalah mereka yang berjuang mencurahkan tenaga dan pikirannya agar anak-anak diberbagai penjuru negeri yang tidak terjangkau oleh teknologi akan mampu dan mempunyai kesempatan yang sama dalam memperoleh informasi dan pengetahuan seperti layaknya orang-orang kota yang sudah canggih dengan teknologinya.

Jadi untuk apa menjadi risau dengan pustakawan. Profesi atau bukan, apabila kita mencintai pekerjaan itu dan bahagia dengan pekerjaan itu maka tidak akan pernah takut terdisrupsi oleh secanggih apapun teknologi. Perkembangan teknologi dan isyu disrupsi memang perlu menjadi perhatian pustakawan, akan tetapi tidak perlu menjadi ‘parno’ atau ‘paranoid’ apabila kita kembali kepada fitrah pustakawan sebagai agen perubahan dan agen pengetahuan, dengan atau tanpa teknologi. So, saya pikir ada benarnya bahwa kita harus menjadi pustakawan radikal apabila ingin melawan disrupsi yang menjadi ‘monster’ menakutkan bagi sebagian profesi ini.

Akhirnya mari kita berpikir kembali…. pustakawan seperti apa sebenarnya kita selama ini? Apakah pustakawan yang hanya pandai mengeluh dan lupa pada fitrahnya…. yang terlalu dininabobokan dengan wacana-wacana yang diperdebatkan melalui diskusi-diskusi panjang yang kadang tidak ‘ada’ hasilnya selain kegalauan? Atau pustakawan yang tidak ada kata tidak ada yang mungkin… semua bisa kita lakukan, dan kita siap menghadapi apapun rintangan yang ada di depan kita. Mari kita move on dengan melihat realita yang kita hadapi… carilah jalan keluar dari jalan kita sendiri… bernyanyilah dalam sunyi. Karena hanya kebahagian dan kecintaan yang akan memberikan kita kekuatan untuk menjaga kita sebagai pustakawan!

Kotagede, Yogyakarta, 11.11.2018 – 18.50

 

Mencoba Kereta Bandara – BNI City – Bandara Soeta (2)

Setelah sebelumnya saya mencoba kereta bandara dengan melakukan pemesanan tiket melalui aplikasi railink dan bayar melalui atm, kali ini saya akan cerita sedikit melakukan pembelian tiket melalui vending machine di stasiun kereta bandara. Sama seperti sebelumnya, ini juga dalam rangka ada kerjaan di ibukota negara kemudian iseng-isng mencoba datang langsung ke stasiun BNI city baru. Kali ini saya niat ingin coba melakukan pembelian melalui vending machine tidak melalui aplikasi. Begitu sampai stasiun tanya petugas dan dibantu untuk proses pembelian. Secara garis besar prosesnya jauh lebih sederhana dibanding dengan menggunakan aplikasi Railink. Begini caranya:

  1. Datang ke vending machine yang tersedia di Stasiun.
  2. Pada layar vending machine akan ada tampilan transaksi.
  3. Pilih Buy Ticket
  4. Selanjutnya pilih stasiun tujuan, karena saya akan ke soekarno hatta maka pilih BST
  5. selanjutnya pilih jadwal keberangkatan kereta
  6. kemudian selanjutnya pilih model pembayaran, karena saya pakai debit mandiri, maka saya pilih menu debit/credit card
  7. kemudian gesek kartu ATM kita pada mesin EDC.
  8. masukan PIN dan klik tombol hijau
  9. Selanjutnya apabila transaksi berhasil maka secara otomatis akan keluar bukti pembayaran dan juga tiket yang sudah ada tempat duduknya.
  10. Selanjutnya menuju ke ruang tunggu check in, biasanya 15 menit sebelum kereta datang akan dibuka pintu check-innya.
  11. Perjalanan ke Bandara Soekarno Hatta dari Stasiun Sudirman City ditempuh tidak kurang dari 46 menit.

Selamat mencoba dan semoga berguna.

Mencoba Kereta Bandara Railink BNI City – Soekarno Hatta (1)

Sekedar ingin bercerita ‘perjuangan’ mencoba kereta bandara dari BNI City ke Soekarno Hatta. Jadi awalnya kebetulan ada tugas untuk mengisi seminar di Perpustakaan Nasional pada tanggal 27 September 2018. Nah kebetulan saya orang yang kurang suka untuk berlama-lama di suatu tempat, jadi perlu cari perlu mengatur waktu yang praktis agar bisa kembali ke Jogja secepatnya. Acara di Perpusnas pagi hari sekitar pukul 09.00-an, mau berangkat pakai pesawat dan turun di halim mikir kalau nanti dari halim biasanya macet dan bisa2 terlambat di acara. Hingga akhirnya putuskan saja naik kereta malam dari jogja yang sampai Gambir shubuh dan sangat dekat dengan Gedung Perpustakaan Nasional. Jalan kaki paling 10-15 menit aja. Nah sekarang tinggal pulangnya ini, berpikir gimana caranya agar bisa pulang aja segera. Saya kepikiran ingin kembali ke jogja melalui Bandara Soekarno Hatta saja, dan berpikir sepertinya sudah ada kereta bandara, tentu lebih praktis, nyaman dan cepat. Akhirnya saya putuskan pesan tiket pulang ke Jogja melalui Soekarno Hatta.

Nah cerita masalah ‘perjuangan’ mencoba kereta bandara dimulai. Sebagai orang yang cukup katrok dan belum pernah naik kereta bandara, tentu saya harus mencari informasi segera. Tiket ke jakarta dan pulang ke jogja sudah terbeli, jadi tinggal mikir tiket kereta bandara. Bayangan saya tadinya tiket bisa dibeli cash di stasiun, ternyata cari informasi di internet dan mengunjungi website https://www.railink.co.id/ baru tahu kalau semua pembayaran dan pemesanan dilakukan secara cashless atau tidak pakai uang tunai. Pilihannya pakai credit card, virtual account, atau fasilitas atm lainnya.
Pertama yang coba dilakukan adalah mencoba memasang aplikasi Railink di smartphone, karena saya pikir itu menjadi cara paling praktis yang harus disiapkan. Lewat googleplay store akhirnya terpasanglah aplikasi Railink di smartphones. Lalu coba buka aplikasi dan di awal langsung muncul halaman reservation untuk pilihan tujuan. Disana ada pilihan asal stasiun dan stasiun tujuan, juga jenis tiket reguler (umum) atau reserve seat (pesen dengan nomer tempat duduk), juga pilihan one-way (sekali jalan) atau return bolak-balik.  Selain itu juga ada pilihan tanggal keberangkatan dan jumlah penumpang. Saya coba pilih SDB untuk Sudirman City dan BST untuk Sukarno Hatta. Selanjutnya saya klik search untuk melihat pemberangkatan. Selanjutnya tertera informasi nama kereta, jam keberangkatan, jumlah seat tersedia dan harga (70.000 rupiah). Selanjutnya coba klik pada bagian jadwal yang sesuai dan kemudian keluar informasi booking dan kode pembayaran.  Nah selanjutnya muncul model pembayaran menggunakan apa, voucher atau payment. Kalau payment maka langsung masuk ke 3 pilihan Online Payment, Indirect Payment, dan Virtual Account. Nah kebingungan awalnya mau pakai yang mana ini kok gak ada yang cocok, karena punyanya ATM Mandiri dan BRI tapi kok pilihannya di tidak ada, adanya ATM bersama. Akhirnya booking saya batalin. Cuman berpikir ok, besok aja kalau sudah sampai Jakarta coba langsung pesen di stasiun, siapa tahu ada counter2.

Percobaan booking saya coba berkali2 tapi urung karena ragu-ragu, sampai akhirnya sudahlah besok saya coba lagi. Esoknya begitu sampai stasiun gambir saya coba lakukan booking menggunakan aplikasi Railink lagi. Kali ini saya coba buka-buka lebih detail. Saya pikir2, ini kalau saya pilih reguler dan sudah ada waktunya disana gimana kalau nanti sampai stasiun terlambat. U knowlah… lalu lintas jakarta kadang tidak diprediksi. Iseng2 saya buka menu yang lain,… dan duaaar… ternyata ada menu Flexi Ticket. Ternyata disediakan menu Flexi tiket untuk memesan tiket dengan tidak tergantung pada waktu berangkat (jam berangkat). Nah ini cocok pikir saya… maka saya coba lagi pakai Flexi Ticket, harganya memang sedikit lebih mahal yakni 100 ribu dibanding reguler, tapi saya pikir ini lebih aman dibanding saya harus lari2 mengejar waktu. Coba transaksi dan coba pilih menggunakan ATM Bersama, karena saya pikir di stasiun ada ATM yang ada logonya ATM Bersama. Setelah saya coba akhirnya dapatlah nomer booking dan pembayaran yang harus saya konfirmasi melalui ATM pembayarannya.

Nah di ATM ternyata saya kebingungan lagi, ini menunya pakai yang mana? Karena ATM hanya punya Mandiri dan BRI bolak-balik saya coba pakai kedua mesin ATM itu, bingung ini harus pilih mana untuk membayar tiket Railink yang saya pesan. Akhirnya coba saya liat lagi petunjuk di aplikasi railink mengenai cara bayar lewat ATM, nah rupanya pilihannya menggunakan Transfer Lainnya. Saya balik ke ATM Mandiri, saya coba lagi pakai ATM lainnya saya masukan kode pembayaran, lha kok tetap macet gak bisa, sudah muncul tapi gagal lagi. PIndah lagi ke ATM BRI saya coba lagi, sesuai petunjuk diminta memasukan kode untuk rekening railink dan nomer pembayaran, Saya coba masukan kode berdasarkan info dari aplikasi… lha kok masih tidak bisa. Bilang kalau tetap tidak dikenal. Sudah nyaris putus asa karena bolak balik mesin ATM belum tahu masalahnya apa. Akhirnya coba iseng baca lagi di petunjuk, dan coba tidak masukan kode awal bank hanya masukan langsung kode pembayaran dan….. tralala…. bisa. Rupanya di dalam kode pembayaran sudah mengandung kode awal banknya, jadi saya tambah kode sesuai di aplikasi malah tidak dikenal. Masalah transfer pembayaran selesai… ok tinggal nunggu konfirmasi.

Tidak lama munculkan konfirmasi ke email terkait transfer, bahwa sudah ada transfer sekian dan tiket telah terbayar (PAID). Nyicil ayemmm… satu proses selesai. Saya pikir nanti tentu tiket dikirim ke email seperti kalau kita pesen lewat online untuk pesawat. So… saya langsung cabut ke perpusnas. Ternyata sampai akhir acara di Perpusnas, itu ticket electronik gak juga dikirim… mulailai galau lagi saya. Waduh ini kok saya gak dikirimi email tiket… apa tadi ada yang salah. Ok,saya pikir saya akan langsung tanya saja di stasiun kereta bandara Sudirman Baru BNI City nanti… meluncurlah saya bersama abang Gojek ke stasiun bandara Sudirman Baru.

Sampai sana tanya orang kemana arah masuk stasiun… ditunjukkan menggunakan lift untuk ke lantai 2. Rupanya di lantai 2 stasiun ini sudah ada beberapa tenant… hanya memang suasana sepi sekali. Pertama yang saya tuju langsung ke bagian informasi. Saya tanya saya sudah pesan dan bayar lewat online, tapi kok tidak ada tiket elektroniknya. Di jawab petugas coba dicetak sendiri menggunakan mesin tiket. Menujulah saya ke mesin tiket… disana juga sudah ada petugas yang dengan riang gembira membantu saya. Saya dibantu petugas mencoba mencetak tiket… saya perlihatkan nomer booking saya ke petugas… dimasukanlah kode itu…. duaaar! lha kok tidak bisa muncul cetak tiket seperti biasanya… diulang lagi sampai 3-5 kali hasilnya sama. Akhirnya coba pindah mesin tiket sebelahnya… tetap saja tidak bisa… saya sudah mulai galau ini. Tak berapa lama ada petugas lain di sebelah yang tahu kami bingung trus mendekat. Saya jelaskan kalau tiketnya ini tidak bisa cetak dengan kode booking saya… saya trus bilang saya pesen flexi tiket. Begitu saya bilang flexy tiket… rupanya ada tombol sendiri khusus untuk cetak flexi tiket. Yang tadi digunakan kami dan gagal itu untuk cetak reguler…. oalaaah…dasar katrokkk… paijooo paijooo. Petugas membantu memasukan kode di flexi tiket… kemudian ditanya mau berangkat jam berapa, saya sebutkan yang paling dekat berangkatnya… lalu dipilihkan jam 13.45.  Alhamdulilah tiket tercetak keluar dan saya pun menuju ke ruang tunggu kereta, ternyata ada di lantai bawah. Pintu boarding baru dibuka 15 menit sebelum pemberangkatan, jadi tunggu saja kalau belum buka. Tepat 13.45 akhirnya berhasil berangkat dengan Railink… keretanya nyaman, melewati beberapa stasiun dan perjalanan kurang lebih 30 menit sampai ke Bandara Sukarno Hatta. Dari stasiun ini kita mesti berjalan menuju stasiun skybridge train atau kereta skybridge bandara. Dari sana nanti kita akan dibawa ke terminal sesuai tujuannya. Perhatikan arah terminal 1 berbeda dengan arah kereta untuk terminal 2 dan 3.

Selamat mencoba…saya kira menggunakan kereta bandara cukup enak, hanya memang stamina juga harus kuat karena dari kadang harus jalan cukup jauh dari terminal B ke A atau ke C dan D (apabila di terminal 1).

Cerita masa kecil: “Mahal”nya Pergaulan (1)

Masa kecil bagi setiap orang selalu mempunyai kesan sendiri, tidak terkecuali untuk Maman, seorang yang menghabiskan masa kecilnya di sebuah kampung tidak jauh dari Gunung Slamet. Seperti halnya anak-anak lainnya, Maman yang pada kala itu berumur kurang lebih 10 tahun sedang hobi-hobinya menghabiskan waktu bermain bersama teman-teman kampungnya. Yang membedakan Maman kecil dengan teman-temannya adalah latar belakang ekonomi yang tidak ‘seberuntung’ teman-teman lain yang berkecukupan. Bapaknya yang tukang tambal ban dan ibunya yang guru agama di SD depan rumah, penghasilannya ‘hanya’ cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari untuk Maman dan 7 saudara-saudaranya. Ketika teman-teman ramai membeli mainan-mainan terbaru, seringkali Maman kecil hanya bisa melihat atau sekedar ikut memegang dan mengagumi mainan itu. Hatinya cukup puas dan bahagia ketika ikut bermain dengan teman-teman, walaupun kadang hanya melihat dan menonton saja.
Suatu ketika Maman kecil pergi untuk bermain dengan teman-temannya, tidak jauh dari rumahnya. Disana sudah berkumpul teman-temannya ada yatno, eman, nono, indra, dan satu teman baru namanya Aris. Aris belum lama tinggal di kampungnya, baru beberapa bulan pindah kesitu. Ternyata teman2 sedang asyik melihat mainan Aris yang baru saja dibelikan orang tuanya berupa pedang-pedangan yang terbuat dari plastik dan dapat bersinar ketika dipencet tombolnya. Bagi Maman yang biasa bermain pedang hanya dari pelepah pisang atau batang bambu tentu kehadiran pedang yang sangat ‘modern’ itu membuat kagum dan ingin juga sesekali memainkannya.
Maman kecil akhirnya memberanikan diri bilang ke Aris untuk meminjamnya. “Ris, aku pinjam dong pedang2anmu itu, boleh tidak?”. Aris yang belum puas bermain dengan pedang-pedangannya menjawab “wah nanti ya, ini aku masih ingin bermain jee”. Walaupun sedikit kecewa, Maman kecil tetap menunggu dengan berharap nanti Aris bosan memainkannya dan meminjamkan mainan itu. Maman hanya bisa melihat ketika Aris bermain pedang-pedangan dengan Yatno, Eman, dan teman lainnya.
Setelah menunggu beberapa lama, rupanya Aris sudah sedikit bosan dan kemudian menyerahkan pedang-pedangan itu ke Maman, “Nih man… aku pinjemin… awas, jangan sampai rusak loh!….”. Dengan berbinar Maman menerima pedang ‘modern’ itu dari Aris… “terima kasih ya Ris… sudah boleh pinjam pedangnya.. iya aku gak akan merusaknya lah”.
Akhirnya Maman kecil bisa juga bermain dengan pedang modern pinjaman itu… bergaya ala pendekar diputar-putar dan disabitkanlah pedang2an itu ke teman-temannya…. hyaat… hyaaat….dess…desss. Aris yang melihat Maman kecil memutar-mutarkan pedangnya teriak dengan was-was…. “Maaaannn!… ati-atiii… nanti rusak pedangku kalau kamu mainkan begitu!” Eman dan Yatnopun ikut mengingatkan….”Iya Man… ati-ati… nanti rusak suruh ngganti lho…!”. Belum juga habis mereka mengingatkan… karena Maman kecil terlalu bersemangat dengan mainan ‘baru’nya…tiba-tiba terdengar bunyi ‘krek…..krekkk!!. Rupanya ganggang pedang modern milik aris copot dan patah ganggangnya…. Maman kecil bingung. Aris dan teman-temannya berteriak….”naaah… apa aku bilanggg? kamu sih gak hati-hati… rusak tuh jadinya pedang baruku… kata Aris. “Pokoknya kamu harus ganti Man…, aku gak mau tahu. Kamu gak boleh main kesini kalau belum gantiiin pedangku…” begitu ujar Aris dengan ketus. Maman kecil menyahut “iya-iyaa… nanti aku ganti… aku pulang dulu yaaa….”
Maman kecil pulang ke rumah dengan hati gundah gulana dan bingung. Darimana bisa dapat uang buat mengganti mainan Aris yang dirusaknya. Uang jajannya yang kadang ada kadang tidak… kalaupun ada tidak sampai 5 rupiah per hari, tidak mungkin bisa untuk membeli mainan yang harganya bisa jadi sampai sampai ratusan rupiah. Mau minta ke bapak atau ibunya juga tidak mungkin, karena pasti akan dimarahin dan belum tentu mereka mempunyai uang sebesar itu untuk membelikan mainan. Kalaupun ada tentu buat kebutuhan lain yang lebih mendesak.
Berhari-hari Maman kecil bingung mencari cara agar bisa mengganti pedang yang dirusakannya agar bisa kembali bermain bersama Aris dan teman-temannya yang lain. Bahkan untuk sekedar lewat di depan rumah Arispun, Maman kecil tidak berani. Maman kecil akhirnya mencoba pindah bermain dengan teman di sisi kampung yang lain… setidaknya dia masih bisa bermain walaupun belum bisa bermain dengan teman-temannya yang lama.
Waktu berlalu hingga sampai lebih dari 3 bulan, Maman kecil tetap belum bisa mengganti mainan yang dirusakannya, sampai suatu ketika Maman kecil tahu bahwa Ayahnya baru saja menjual sebagian ‘tanah pekarangan’ warisan orang tua di lereng Gunung Slamet untuk biaya kuliah kakaknya di Jogja. Maman kecil tahu bahwa uang hasil penjualan diserahkan ke ibunya. Maman kecil memberanikan diri untuk meminta uang ke ibunya agar bisa mengganti mainan pedang punya Aris yang dirusakannya. Tujuannya hanya satu, agar bisa kembali bermain bersama yatno, eman, dan teman-teman lainnya. Maman kecilpun menemui ibunya dan bilang “Bu…. boleh gak Maman minta uang 1000 rupiah?”. Ibunya heran dan bertanya “buat apa Man…. kamu minta uang sebanyak itu?, hasil penjualan tanah kemaren itu untuk mbayar SPP kakakmu di Jogja yang lagi kuliah”. “Anu bu…. jadi ceritanya Maman itu dulu ngrusakkin mainannya Aris… dan Maman harus menggantinya. Kalau Maman enggak mengganti… Maman gak bisa main lagi sama yatno dan lain-lain.” Ibunya menyahut….”Maan… maan… kamu itu kok ya gak hati-hati… jadi selama ini kamu main di kampung sebelah itu karena kamu gak berani main lagi sama yatno dan kawan-kawan gara-gara kamu rusakin mainan Aris?”. Iya Bu… sahut Maman. Ibunya terus bertanya kembali “emang mainan apa sih yang kamu rusakin…? apa tidak bisa diperbaiki?” “Sebetulnya bisa sih Bu… cuman aris maunya mainannya diganti baru… karena yang Maman rusakin khan baru dibeli”, sahut Maman. “Ya sudah… kalau begitu besok kita belikan mainan pengganti yaa… mudah2an uang sisanya masih cukup buat beli mainannya… besok kamu bantu-bantu Bapak… nanam pohon di tempat pak Lurah biar bisa nambah-nambah uang buat ganti mainan itu”, sahut ibunya. “Baik Bu, sahut Maman kecil dengan riang”.

Esoknya… sepulang sekolah Maman dipanggil Bapak… “Man… sini! Kamu ikut bapak ke tempat pak lurah yaaa? Pak lurah minta ditanamin mangga di belakang rumahnya”, kata Bapaknya. “Tapi maman udah janjian sama teman mau main je pak…”, sahut Maman. “Lho… kata ibumu kemaren kamu mau bantuan Bapak… ayoo bantuin Bapak dulu… nanti abis dari tempat pak lurah kamu boleh main”, sahut Bapaknya. “Baik pak…nanti Maman nyusul yaa…. Bapak berangkat dulu saja ke tempat pak lurah,” kata Maman. “Lho.. kenapa tidak bareng saja…?” kata Bapak. “Anu pakkk….bentar mau bilang temen2 dulu”, kata Maman. “Yo wis… tapi bener lho nanti nyusul Bapak”, sahut Bapak. “Nggeh Pak…”, Maman kembali menimpali.

Bapak berangkat ke tempat pak lurah… dan Maman tak beberapa lama menyusul tapi lewat jalan yang berbeda dengan Bapaknya, karena harus sedikit memutar. Rupanya untuk ke rumah pak Lurah… Maman harus lewat depan rumah Aris… dan karena belum beli pedang pengganti yang dirusakannya… Maman tidak berani lewat depat rumah aris. Di jalan Maman ketemu dengan Yatno… “woiii maaan…. mau kemana? kamu dicariin sama Aris itu katanya ditunggu gantiin pedangnya yang kamu rusak”, kata Yatno. “iyaa…iyaaa… ini aku juga nanti mau minta beliin ibu untuk ganti pedangnya…. uangnya baru ada. bilangin ke aris pasti nanti sore atau besok sudah aku ganti kok… ibu kemaren bilang mau kasih uang aku untuk beli”, kata Maman. Maman pergi meninggalkan Yatno ke tempat pak lurah dan membantu Bapaknya menanam pohon mangga pesanan pak lurah.

Sepulang dari tempat pak lurah, Maman bergegas menemui ibunya. “Bu… jadi beli pedang untuk aris gak? tadi Maman ketemu Yatno dan katanya aris nyariin aku suruh ganti pedangnya?, Ibu masih ada uang khan buat belikan Maman pedangnya?” kata Maman. “Iya maan… ibu ingat kok… belinya dimana mainannya?”, kata Ibu. “Itu loh bu… di pasar sana itu”, kata Maman. ” Ya udah… bentar ya ibu beresin ini dulu nanti kita ke pasar beli mainan buat Aris”, kata Ibu.

“Maan…. ayooo kita ke pasar”, teriak Ibu memanggil Maman. Maman kecil bergegas menghampiri Ibunya….”ayoo buu… Maman udah janji kalau gak hari ini ya besok gantiin mainannya”. Akhirnya Maman dan Ibunya ke pasar… di sana sudah ada penjual mainan yang biasa mangkal di sekitar pasar. Mamanpun menunjukkan ibunya mainan seperti yang dimiliki Aris…”itu lho Bu…mainannya”, kata Maman. “Lho kok harganya mahal Man…? Lha ini uang Ibu tinggal 1500 rupiah,  habis dong kalau buat beli mainan ini?”, kata Ibu. “lha tapi gimana Bu? Maman udah janji jee…. dan Maman pengen kembali main sama yatno, eman dan lainnya?”, sahut Maman. ” Ya sudah…ini uangnya buat beli ini saja gak apa-apa, mudah2an besok Ibu ada rejeki buat penggantinya”, sahut ibunya. Akhirnya Maman kecil pulang dari pasar dengan membawa pedang mainan baru untuk pengganti pedang aris yang dirusaknya. “Maan… besok-besok hati2 ya… gak usah pinjam mainan teman2mu… kalau rusak nanti repot dan harus ganti”, kata Ibunya. “Nggeh Bu…,” sahut Maman.

Begitu sampai rumah… Maman kecil langsung pamit ke Ibunya untuk pergi ke rumah Aris. “Bu, Maman… anter mainan ke tempat Aris dulu yaaa,” kata Maman. “Iyaa… jangan sore-sore pulangnya yaaa”, kata ibunya. Maman kecil sudah pergi berlari tanpa menunggu jawaban ibunya. Sampai di rumah aris… Maman tidak melihat teman-temannya ada disitu, arispun tidak ada. Tapi rupanya Ibunya Aris ada disitu. “Cari siapa nak?”, kata Ibu Aris. “Aris ada tidak ya Bu? saya mau mengganti mainan aris yang dulu saya tidak sengaja rusak”, kata Maman kecil dengan takut-takut. “Oh jadi ini toh yang diceritain Aris merusak mainan barunya. Lain kali kalau pinjam hati-hati yaa..!” sahut Ibu Aris. “Aris tadi pergi sama Yatno ke rumah Eman… coba kamu cari kesana”, kata Ibu Aris selanjutnya. “Baik Bu… saya kesana”, kata Maman kecil. Maman bergegas ke rumah Eman… disana sudah ada Aris, Yatno dan teman-teman lainnya. Maman kemudian menyapa mereka “hai… aku mau ngganti mainan aris…, ini ris…mainan pengganti yang aku rusakin kemarin,” kata Maman sambil menyodorkan pedang2an yang baru dibeli bareng Ibunya. Aris menerima mainan dari Maman dan berkata, “lho Man, ini pedang2annya kok beda dengan yang punyaku kemaren ya… tapi tidak apa-apa, aku udah dibelikan yang baru kok sama ibuku”, sahut Aris. “Lho jadi gimana ini ris?” sahut Maman. “Udah gak apa-apa nanti, ini nanti biar disimpan aja”, kata Aris. “Ok, terima kasih ya ris… maaf ya baru bisa mengganti dan cuman begitu pedangnya, soalnya aku nunggu ibuku punya uang,”, sahut Maman. “Ya udah… yuk kita main lagi saja”, kata Aris. Maman kecilpun akhirnya kembali bisa bermain dengan teman-temannya setelah beberapa bulan tidak bisa bermain.

Menjelang maghrib, Maman pulang ke rumah. Sampai rumah, karena merasa lapar, Maman kecil tanya ke Ibunya, “Bu, Maman lapar…. Maman mau makan dulu. Lauknya apa Bu?”, kata Maman. “Duh man… uang yang buat beli lauk tadi itu yang buat nambahin beli mainanmu itu lho…ibu gak ada uang buat beli lauk. Itu nasinya masih anget, nanti dicocol pakai minyak dikasih garam aja yaaa?”, kata ibunya. “Baiklah bu… gak apa-apa, Maman makan pakai nasi sama garam sudah enak kok… maafkan Maman ya Bu, udah merepotkan Ibu,..” sahut Maman. Maman kecil berjanji ke depan harus bisa beli mainan sendiri, dan ingat bahwa kadang untuk berteman dan bergaul perlu ‘modal’ yang diluar kemampuannya. Maman kecil hanya berjanji dalam hati kalau kelak dia tidak boleh menyusahkan kembali orang tuanya. Maman harus sukses, jadi nanti anak-anaknya tidak boleh merasa kesusahan kalau mau beli mainan.

Yogyakarta, 10 Oktober 2018

Refund Tiket Kereta Api di stasiun TUGU Yogyakarta

Rencana perjalanan kita sering kali di luar dugaan, seringkali perjalanan yang sudah direncanakan sedemikian rupa tiba-tiba harus dibatalkan karena ada urusan yang lebih penting. Padahal tiket perjalanan sudah terlanjur ditangan dan dibayarkan. Bagi sebagian orang mungkin cukup panik dan bingung menghadapi situasi ini, apalagi terkait bagaimana mengusakan refund biaya perjalanan yang sudah kita bayarkan. Nah, beberapa waktu lalu saya mengalami hal ini, tiket kereta Api yang sudah dibeli pulang balik ke Surabaya, terpaksa harus dibatalkan karena pada saat yang sama harus bertugas ke Jakarta. Kalau sama-sama menggunakan kereta api mungkin akan lebih mudah dalam mengganti tiket, tinggal mengganti schedulle dan membayar selisih. Tapi karena ke Jakarta menggunakan moda transport berbeda yakni pesawat, maka mau tidak mau tiket kereta api harus dibatalkan dan mengurus refund biaya yang sudah dibayarkan.

Sebagai catatan bahwa namanya refund tentunya tidak bisa dikembalikan 100%. Untuk tiket kereta api, pembatalan akan dikenakan denda 25% sehingga dana yang akan dikembalikan ke kita ‘hanya’ 75% dari harga tiket yang dibayarkan. Berikut ini adalah beberapa hal yang dilakukan dalam refund tiket kereta api dari stasiun TUGU Yogyakarta:

  1. Pertama perlu disiapkan bukti pembelian tiket yang disana ada nomer referensi pemesanan atau booking.
  2. Sertakan fotokopi KTP pemilik tiket 2 lembar. Apabila diwakilkan maka harus ada surat kuasa dan juga KTP dari pemilik tiket (nama yang ada di tiket).
  3. Pastikan datang di bagian Reservasi Tiket, bukan di loket pembelian langsung di stasiun. Karena pengalaman saya ketika datang ke stasiun TUGU di Jogja ternyata disana tidak bisa melayani refund, harus kebagian pemesanan tiket yang berada di sisi selatan stasiun.
  4. Di bagian reservasi sendiri ada 2 bagian ruang yang terpisah, dimana satunya bagian pemesanan dan customer services, sedangkan satunya adalah bagian pembatalan pemesanan. Nah untuk refund sendiri ternyata kita tidak bisa langsung datang ke bagian pembatalan pemesanan, tapi kita harus ke bagian customer services terlebih dahulu. Ambil antrian terlebih dahulu di ruang customer services, kemudian tunggu panggilan.
  5. Setelah dipanggil bagian CS nanti kita diminta menyerahkan berkas pemesanan tiket dan fotocopy KTP dan diminta tanda tangan pada formulir yang sudah disediakan dan diisi oleh petugas. Disini petugas akan melakukan pembatalan pemesanan.
  6. Selesai di CS kita nanti harus membawa formulir yang sudah diisi dan ditandatangani di CS ke ruang bagian pembatalan pemesanan. Nah nanti kita serahkan formulir ini ke petugas dan nanti kita akan diberi blangko kuning untuk pengambilan pengembalian biaya tiket. Tapi jangan berpikir bahwa uang kita akan langsung diberikan saat itu juga. Dana refund baru dapat diambil 30 hari setelah kita melakukan pembatalan. Jadi proses refundnya memang cukup lama untuk pembatalan tiket kereta api ini.
  7. Jadi setelah menerima form kuning ya pulang saja, dan balik lagi ke bagian pembatalan itu setelah 30 hari hehehe.

Ya semoga sekelumit cerita ini bisa membantu siapapun dalam melakukan refund biaya tiket kereta api ketika melakukan pembatalan. Setidaknya tidak ‘kecelik’ seperti saya yang harus berjalan cukup jauh karena terlanjur datang di pintu utara stasiun ternyata refund hanya dilayani dibagian reservasi yang ada di pintu selatan.

Bulaksumur, Februari 2018