SIDEBAR
»
S
I
D
E
B
A
R
«
Refund Tiket Kereta Api di stasiun TUGU Yogyakarta
Feb 19th, 2018 by arifs

Rencana perjalanan kita sering kali di luar dugaan, seringkali perjalanan yang sudah direncanakan sedemikian rupa tiba-tiba harus dibatalkan karena ada urusan yang lebih penting. Padahal tiket perjalanan sudah terlanjur ditangan dan dibayarkan. Bagi sebagian orang mungkin cukup panik dan bingung menghadapi situasi ini, apalagi terkait bagaimana mengusakan refund biaya perjalanan yang sudah kita bayarkan. Nah, beberapa waktu lalu saya mengalami hal ini, tiket kereta Api yang sudah dibeli pulang balik ke Surabaya, terpaksa harus dibatalkan karena pada saat yang sama harus bertugas ke Jakarta. Kalau sama-sama menggunakan kereta api mungkin akan lebih mudah dalam mengganti tiket, tinggal mengganti schedulle dan membayar selisih. Tapi karena ke Jakarta menggunakan moda transport berbeda yakni pesawat, maka mau tidak mau tiket kereta api harus dibatalkan dan mengurus refund biaya yang sudah dibayarkan.

Sebagai catatan bahwa namanya refund tentunya tidak bisa dikembalikan 100%. Untuk tiket kereta api, pembatalan akan dikenakan denda 25% sehingga dana yang akan dikembalikan ke kita ‘hanya’ 75% dari harga tiket yang dibayarkan. Berikut ini adalah beberapa hal yang dilakukan dalam refund tiket kereta api dari stasiun TUGU Yogyakarta:

  1. Pertama perlu disiapkan bukti pembelian tiket yang disana ada nomer referensi pemesanan atau booking.
  2. Sertakan fotokopi KTP pemilik tiket 2 lembar. Apabila diwakilkan maka harus ada surat kuasa dan juga KTP dari pemilik tiket (nama yang ada di tiket).
  3. Pastikan datang di bagian Reservasi Tiket, bukan di loket pembelian langsung di stasiun. Karena pengalaman saya ketika datang ke stasiun TUGU di Jogja ternyata disana tidak bisa melayani refund, harus kebagian pemesanan tiket yang berada di sisi selatan stasiun.
  4. Di bagian reservasi sendiri ada 2 bagian ruang yang terpisah, dimana satunya bagian pemesanan dan customer services, sedangkan satunya adalah bagian pembatalan pemesanan. Nah untuk refund sendiri ternyata kita tidak bisa langsung datang ke bagian pembatalan pemesanan, tapi kita harus ke bagian customer services terlebih dahulu. Ambil antrian terlebih dahulu di ruang customer services, kemudian tunggu panggilan.
  5. Setelah dipanggil bagian CS nanti kita diminta menyerahkan berkas pemesanan tiket dan fotocopy KTP dan diminta tanda tangan pada formulir yang sudah disediakan dan diisi oleh petugas. Disini petugas akan melakukan pembatalan pemesanan.
  6. Selesai di CS kita nanti harus membawa formulir yang sudah diisi dan ditandatangani di CS ke ruang bagian pembatalan pemesanan. Nah nanti kita serahkan formulir ini ke petugas dan nanti kita akan diberi blangko kuning untuk pengambilan pengembalian biaya tiket. Tapi jangan berpikir bahwa uang kita akan langsung diberikan saat itu juga. Dana refund baru dapat diambil 30 hari setelah kita melakukan pembatalan. Jadi proses refundnya memang cukup lama untuk pembatalan tiket kereta api ini.
  7. Jadi setelah menerima form kuning ya pulang saja, dan balik lagi ke bagian pembatalan itu setelah 30 hari hehehe.

Ya semoga sekelumit cerita ini bisa membantu siapapun dalam melakukan refund biaya tiket kereta api ketika melakukan pembatalan. Setidaknya tidak ‘kecelik’ seperti saya yang harus berjalan cukup jauh karena terlanjur datang di pintu utara stasiun ternyata refund hanya dilayani dibagian reservasi yang ada di pintu selatan.

Bulaksumur, Februari 2018

Suntik Meningitis di Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Yogyakarta
Jan 30th, 2018 by arifs

Mencoba sedikit berbagi pengalaman terkait bagaimana proses suntik vaksin meningitis di Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Yogyakarta. Vaksin Meningitis ini diwajibkan bagi calon jamaah haji maupun umroh yang akan berangkat ke tanah suci. Vaksin meningitis ini sendiri berlaku selama 2 tahun atau dapat memproteksi kekebalan selama 2 tahun. Berikut ini adalah langkah-langkah yang saya lakukan dalam melakukan proses vaksin meningitis:

  1. Mencari informasi lokasi dan prosedur melakukan meningitis secara online dan ketemulah dengan situs web Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Yogyakarta yang beralamat di http://kkpyogyakarta.com
  2. Selanjutnya dari website KKP Yogyakarta dilakukan pendaftaran secara online dengan mengisi formulir yang ada di laman pendaftaran (http://kkpyogyakarta.com/pendaftaran). Terlebih dahulu sebaiknya kita siapkan data pasport kita dan juga travel agen umroh yang akan memfasilitasi keberangkatan kita. Data ini nanti akan diperlukan ketika kita mengisi formulir pendaftaran.
  3. Setelah mengisi formulir kemudian klik kirim pesan, dan nanti akan sampai kepada halaman konfirmasi. Setelah itu ada tombol untuk mengklik cetak bukti pendaftaran, klik saja bukti pendaftaran. Selanjutnya nanti akan tampil 2 halaman formulir yang siap diisi dengan berbagai data pemeriksaan. Cetak formulir tersebut (rangkap satu).
  4. Selanjutnya siapkan fotocopy pasport 1 lembar, fotocopy ktp/kk 1 lembar, dan foto ukuran 4 X 6 sebanyak 2 lembar. Satukan berkas ini bersama dengan formulir pendaftaran online yang sudah dicetak.
  5. Pada saat pendaftaran kita diminta untuk mengisi alamat e-mail kita, nah setelah proses pendaftaran online selesai, nanti akan terkirim bukti pendaftaran dan nomer urut pendaftaran online yang berisi data kita. Untuk jaga-jaga sebaiknya ini juga dicetak.
  6. Setelah semua berkas lengkap, meluncurkan saya ke KKP Yogyakarta menggunakan Ojek Online (biar praktis dan cepat saja sih).
  7. Sampai di KKP Yogyakarta, sebaiknya anda langsung mengambil formulir pendaftaran berwarna hijau yang ada di lantai satu sebelum masuk ke ruang pendaftaran (ada di lantai 2). Isikan data yang harus diisi disitu. Formulir hijau perlu diisi untuk mengisi rekam data medis kita yang nanti akan dicrosscheck oleh petugas. Awalnya saya agak bingung begitu masuk di lantai satu tidak ada meja informasi hanya ada meja yang berisi formulir-formulir pendaftaran yang warna hijau. Saya coba tanya salah satu petugas di bawah tangga yang ternyata kasir terkait prosedur ternyata jawabannya kurang memuaskan, karena langsung menolak dengan mengatakan bahwa disitu adalah kantor pos. Saya diminta meminta informasi ke Satpam, padahal satpam ada di luar. Ini yang membuat saya awalnya agak sedikit ‘kecewa’ karena tidak cukup informan disitu sampai akhirnya saya mendengar bunyi antrian dari lantai 2. Walaupun sebetulnya ternyata ada poster yang berisi petunjuk informasi, hanya karena banyak orang yang sedang mengisi jadi saya tidak melihatnya. Sayapun meluncur ke atas dan langsung ke loket pendaftaran. Disini saya juga ternyata kembali tidak ngeh dengan prosedur, ternyata harus mengambil nomor antrian di mesin antrian elektronik yang ada 3 pilihan antrian yakni pendaftaran manual, pendaftaran online dan pengambilan bukti vaksin. Saya klik yang pendaftaran online. Begitu dapat antrian, alhamdulillah tidak sampai 3 menit sudah dipanggil untuk ke loket pendaftaran. Sampai loket pendaftaran saya serahkan formulir dan berkas yang sudah saya siapkan, dari petugas diterima namun seperti di awal saya sampaikan, ternyata masih harus mengisi formulir pendaftaran berwarna hijau di lantai bawah. Sayapun kembali ke lantai bawah untuk mengambil dan mengisi formulir pendaftaran warna hijau. Ini yang menyebabkan kenapa saya menyampaikan di atas bahwa kalau bisa walaupun sudah mendaftar online lebih baik langsung ambil dan isi juga formulir pendaftaran warna hijau agar tidak bolak-balik naik turun…. (walaupun nanti juga naik turun sekali lagi sih)
  8. Formulir hijau dan seluruh berkas kita serahkan ke loket pendaftaran. Dalam kasus saya karena sudah mengumpulkan berkas maka tinggal menambahkan formulir hijau itu kepada petugas. Selanjutnya kita tinggal menunggu panggilan pertama.
  9. Panggilan pertama tidak lebih dari 5 menit untuk masuk ke ruang pemeriksaan B dimana disitu nanti kita dijelaskan oleh petugas mengenai vaksin meningitis dan dicek kembali isian rekam kesehatan yang sudah kita isikan di lembar pendaftaran (lembar hijau), intinya disini adalah kita dikonfirmasi mengenai kondisi fisik kita. Selanjutnya kita diberi selembar kertas dan harus terlebih dahulu melakukan pembayaran biaya di kasir sebelum tahap selanjutnya. Proses di ruang B tidak sampai 10 menit walaupun dilakukan secara berombongan.
  10. Setelah menerima kertas dan penjelasan dari ruang pemeriksaan B, selanjutnya kita harus membayar di kasir yang letaknya di lantai bawah yang ternyata adalah di petugas yang tadi saya tanya dan mengatakan bahwa disitu adalah kantor pos. Ternyata mbaknya berfungsi ganda, sebagai petugas pos dan kasir. Saya agak sedikit heran kenapa mbaknya tadi di awal ketika saya tanya tidak berusaha memberikan informasi ya, padahal pasti akan sangat membantu orang2 yang awam.
  11. Setelah membayar dan menerima bukti pembayaran, kita kembali ke lantai 2 dan menyerahkan bukti pembayaran dan kertas yang diberikan ke kita tadi ke petugas di loket pendaftaran (loket awal kita memasukan berkas).
  12. Selanjutnya kita menunggu proses untuk dilakukan suntik vaksin meningitis. Saya menunggu tidak lebih dari 5 menit sudah dipanggil untuk suntik. Saya perhatikan nama saya dipanggil agak awal dibanding beberapa orang yang sebelumnya diperiksa, mungkin ini salah satu keuntungan melakukan pendaftaran online, karena data sudah langsung masuk ke sistem mereka (perkiraan saya saja sih).
  13. Suntik meningitis dilakukan di ruang pemeriksaan A dan dilakukan bersama dengan beberapa orang sekaligus. Di dalam ruang pemeriksaan ini nanti kita diminta tanda tangan untuk buku kuning meningitis. Proses di ruang sangat cepat karena tidak lebih dari 2 menit saya kira.
  14. Selanjutnya setelah disuntik kita tinggal menunggu pengambilan buku kuning meningitis. Tidak sampai 10 menit, kita akan dipanggil petugas dan diminta menandatangani dan mengisi data pengambilkan bukti vaksin meningitis. Disini nanti kita diminta memberikan penilaian terhadap pelayanan, ada 2 kartu yakni puas dan tidak puas. Saya ambil puas dan masukan ke kotak penilaian. Saya masih merasa puas karena saya lihat sebetulnya proses dapat dilakukan dengan cepat. Saya hanya punya ganjalan sedikit ketika awal masuk dibawah tapi kurang terbantu informasi saja. Selebihnya saya melihat pelayanan sudah baik.

Semoga pengalaman di atas dapat membantu siapapun yang belum pernah melakukan prosedur suntik vaksin meningitis. Oh ya menurut informasi, lebih baik untuk suntik ini 1 bulan sebelumnya dilakukan, karena efek pegel akibat suntik ini menurut informasi akan berlangsung selama 2 minggu sejak disuntik.

Kampus UGM Bulaksumur, 31 Januari 2018

Press Release: 4th All Indonesia Breeder Koi Show, Yogyakarta 28-30 Agustus 2015
Aug 25th, 2015 by arifs

PRESS RELEASE: Jogjakarta Koi Club (JOKC)  mempersembahkan: 

4th All Indonesia Breeder Koi Show 2015 – Yogyakarta, 28-30 Agustus 2015

POSTER AIBKS 2015Yogyakarta, Jogjakarta Koi Club (JOKC) yang merupakan komunitas pecinta, pembudidaya, dan pelaku usaha Ikan KOI di wilayah DIY dan sekitarnya kembali dipercaya oleh Asosiasi Pecinta Koi Indonesia (APKI)  untuk mengadakan sebuah event Show berskala Nasional bertajuk “4th All Indonesia Breeder Koi Show 2015”.  Kegiatan yang disingkat dengan AIBKS 2015 ini diselenggarakan selama 3 hari pada tanggal 28-30 Agustus 2015 di Pendopo Graha Wana Bhakti Yasa, Jl. Kenari No. 14 Yogyakarta.  Menurut ketua panitia, Soemardjan (26/08/2015), kegiatan AIBKS 2015 menjadi ajang bagi para breeder/pembudidaya dan petani KOI di Indonesia untuk menunjukkan eksistensinya dan kualitas ikan yang KOI yang dihasilkan. Selain itu ajang ini akan menjadi media komunikasi bagi para breeder, petani dan juga pecinta KOI di Indonesia untuk saling berbagi informasi dan pengetahuan dalam menghasilkan ikan-ikan KOI yang berkualitas agar dapat bersaing dengan koi import yang berasal dari Jepang, China dan Eropa.

Kegiatan AIBKS 2015  di Yogyakarta ini didukung oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai lembaga yang ikut membina para pelaku budidaya perikanan. Selain ajang lomba atau kompetisi antar para pemilik dan pembudidaya di Indonesia, AIBKS 2015 juga memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk melihat dan mendapatkan koi-koi lokal Indonesia berkualitas dalam acara bazaar dan lelang. Soemardjan, berharap dengan  kegiatan AIBKS 2015 ini akan membawa dampak yang positif dan merangsang perkembangan industri perikanan khususnya ikan hias sehingga mampu memberikan kontribusi untuk pertumbuhan perekonomian di DIY dan Nasional pada masa yang akan datang. Lomba pada kegiatan AIBKS 2015 akan memperebutkan berbagai trophy untuk kategori Grand Champion, Mature Champion, Adult Champion, Young Champion, Baby Champion, Melati Prize, dan Best in Size dari berbagai jenis ikan KOI seperti Showa Sanshoku, Taisho Sanshoku, Kohaku, Utsuri, Kawarimono,  Doitsu, Shusui, Koromo, Asagi dan lain sebagainya.

 

 

SUSUNAN ACARA

Jumat, 28 Agustus 2015

  • 00 – 22.00 Fish Entry (Penerimaan Ikan)

Sabtu, 29 Agustus 2015

  • 00 – 08.30 Rapat Juri
  • 30 -11.30 Penjurian I
  • 30 – 13.00 Break
  • 00 – 17.00 Penjurian II
  • 00 – 19.30 Lelang dan Bazaar
  • 30 – 21.00 Award Ceremony
  • 00 – 21.00 Pameran untuk Umum

Minggu, 29 Agustus 2015

  • 00 – 14.00 Pameran untuk Umum
  • 00 – 14.00 Lelang dan Bazaar
  • 00 – selesai Fish Out
Memupuk Kebanggaan Pustakawan?
Aug 23rd, 2015 by arifs

Pada acara Seminar Nasional di Polines, Semarang, 19 Agustus 2015 lalu saya mendapatkan beberapa pertanyaan yang terkait bagaimana agar kita bisa merasa bangga menjadi seorang pustakawan (calon pustakawan).  Seorang mahasiswa meminta saran agar mereka semakin yakin bahwa keputusan untuk belajar di jurusan perpustakaan adalah tepat. Mereka melihat bahwa dari segi kemampuan teknis dan akademis mereka tidak dapat diragukan lagi. Intinya mereka ingin diyakinkan bahwa ada kebanggaan menjadi seorang pustakawan. Kemudian seorang Ibu dari sebuah perpustakaan kabupaten juga mengkonfirmasi mengenai bagaimana anak-anak ketika ditanya mengenai profesi yang diinginkan selalu menjawab profesi dokter, polisi, pengacara, dan lain-lain tanpa ada yang menyebut pustakawan. Beliau juga menanyakan apakah tidak memungkinkan penghasilan pustakawan melebihi dokter atau paling tidak sama dengan dokter?

Pada kesempatan ini, saya ingin sedikit berbagi pemikiran saya terkait pertanyaan-pertanyaan yang timbul atau muncul pada acara tersebut. Mudah2an jawaban yang dulu masih kurang lengkap dan terbatas waktunya dapat ditambah dengan jawaban yang saya berikan melalui Blog ini.

Profesi Pustakawan memang tidak banyak ‘dikenal’ seperti halnya profesi lain yang ketika disinggung maka semua orang akan langsung mengenalnya. Perlu usaha keras bagi pustakawan untuk menunjukkan bahwa profesi pustakawan adalah profesi yang menjanjikan. Tidak dapat dipungkiri bahwa kondisi di Indonesia belum mampu secara signifikan mengangkat profesi pustakawan sebagai profesi yang ‘sejajar’ dengan profesi-profesi lain yang banyak dikenal saat ini. Profesi pustakawan lebih banyak dilihat sebagai sebuah pekerjaan administratif yang ‘hanya’ berhubungan dengan pinjam meminjam buku, bahkan stereotype bahwa pustakawan adalah ‘penjaga buku’ masih banyak dijumpai di berbagai lingkungan.

Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk ‘menolong’ kondisi tersebut sehingga akan menimbulkan sebuah rasa bangga sehingga pustakawan mempunyai self-esteem yang tinggi? Pertama, mahasiswa calon pustakawan dan pustakawan harus mulai melakukan personal branding.  Mahasiswa harus mampu menyiapkan diri sebagai calon pustakawan yang mempunyai added-value, harus menyiapkan diri agar ketika lulus nantinya mempunyai kelebihan dibandingkan pustakawan pada umumnya. Calon pustakawan yang mempunyai banyak kelebihan misal dari segi teknologi informasi atau sistem informasi dan juga komunikasi akan membawa dampak yang positif nyata dalam dunia kerja nantinya. Banyak contoh yang memperlihatkan bahwa mahasiswa dengan bekal ilmu perpustakaan dan informasi mempunyai fleksibilitas untuk melakukan pekerjaan dalam berbagai lini terutama pada era globalisasi informasi sekarang ini. Demikian juga pustakawan, harus mampu menampilkan sosok yang memang mempunyai kelebihan di bandingkan profesi lainnya. Kalau dalam lingkungan rumah sakit misalnya, dokter dan perawat menjadi komponen penting dalam memberikan pelayanan kepada pasien, maka dalam lingkungan pendidikan misalnya, dosen dan pustakawan harus menjadi komponen penting dalam memberikan pelayanan kepada mahasiswa, pelajar, sivitas akademika dan masyarakat.  Pustakawan harus mampu menunjukkan bahwa kehadirannya di lingkungan lembaga induknya membawa dampak positif dan signifikan, bahkan menjadi bagian keberhasilan lembaga induknya. Dan ini hanya bisa dilakukan oleh pustakawan yang mampu memposisikan dirinya sebagai individu yang berbeda atau mempunyai nilai tambah.

Kedua, yang dapat dilakukan adalah dengan menunjukkan etos kerja profesional. Artinya stigma bahwa pustakawan hanya penjaga buku harus dihilangkan. Pustakawan harus mampu menunjukkan kemampuannya lebih dari sekedar melakukan pekerjaan peminjaman dan pengembalian buku. Dimana bagi sebagian orang hal ini terlihat sangat tidak menarik sebagai sebuah profesi. Pustakawan harus memperlihatkan sikap aktif dan kreatif dalam memberikan pelayanan kepada pengguna. Inovasi dan kreatifitas menjadi kunci yang akan memperlihatkan bagaimana peran pustakawan dalam memberikan sesuatu yang orang lain tidak dapat berikan. Misal dalam lingkungan sekolah, pustakawan harus menjadi bagian dari proses pembelajaran yang dilakukan oleh siswa. Pustakawan bisa menunjukkan sebagai ‘miss/mister serba tahu’ melalui informasi, pengetahuan dan wawasan yang dimilikinya terkait berbagai hal yang dibutuhkan siswa. Bahkan pustakawan dengan kemampuan seperti story telling, musik, ketrampilan tertentu seperti robotika, riset sederhana akan membuat para siswa merasa bahwa pustakawan adalah pekerjaan yang skill-full dan menarik.

Ketiga, adalah melalui sikap, perilaku dan penampilan yang menyakinkan. Pustakawan harus sudah mulai berpikir terkait dengan ‘uniform’ atau pakaian yang digunakan, cara bersikap dan berperilaku yang menarik. Tidak cukup dengan penampilan seadanya, sikap ketus dan perilaku yang membuat pengguna menjadi segan atau berjarak. Hal ini harus dihilangkan dari pustakawan. Sikap, perilaku dan penampilan yang menyakinkan akan membawa aura dan rasa percaya diri yang lebih. Kesan visual akan memberikan dampak yang sangat signifikan bagi seorang untuk dihargai oleh orang lain.

Ketiga hal kecil di atas apabila dilakukan secara baik, tentu akan membawa kepada dampak yang sangat positif ke depan dan tentunya membangkitkan rasa percaya diri dan bangga sebagai seorang pustakawan. Intinnya jadikan bahwa profesi kita adalah profesi yang membawa makna bagi diri sendiri, komunitas yang dilayani dan lingkungan dimana kita melakukan berbagai aktifitas.

Bagaimana dengan penghasilan pustakawan yang dirasa kurang atau jauh di bawah profesi lain seperti dokter dan pengacara misalnya? Satu inside yang menarik dari rekan saya Hendro Wicaksono dalam Seminar Nasional tersebut adalah bagaimana pustakawan mampu secara kreatif menghasilkan sesuatu diluar ‘gaji’ yang secara rutin diterima dari institusi. Dokter dan pengacara apabila hanya mengandalkan gaji dari lembaga yang menggajinya tentunya tidak seberapa, tapi justru melalui pengetahuan dan ketrampilannya dokter dan pengacara membuka praktek atau pekerjaan di luar itu. Nah ini juga bisa dilakukan oleh pustakawan. Berbagai bekal pengetahuan dan wawasan pustakawan dapat digunakan untuk mendapatkan ‘reward’ yang bisa jadi akan setara dengan penghasilan yang dilakukan profesi lain seperti misal dengan menjadi penulis, menjadi konsultan bidang perpustakaan, melakukan berbagai pendampingan pengembangan perpustakaan, melatih orang lain dalam memanfaatkan informasi, hingga melakukan pengembangan-pengembangan sistem informasi atau teknologi informasi, dll.

Saya sendiri merasakan hal yang sama. Apabila melihat gaji dari pustakawan tentu kita akan melihat seolah kita tidak mempunyai penghasilan yang signifikan dibandingkan profesi lain. Akan tetapi dengan melakukan berbagai aktivitas di luar kegiatan resmi di institusi ternyata banyak sumber-sumber penghasilan yang dapat dilakukan pustakawan melalui berbagai pengetahuan dan ketrampilan yang dimilikinya. Intinya bahwa penghasilan seseorang tidak hanya ditentukan oleh apa profesi seseorang tersebut, akan tetapi lebih pada upaya-upaya apa yang sudah dilakukan sehingga mampu menjadi orang yang berbeda atau memiliki nilai lebih.

Jadi, bangga menjadi pustakawan? Kenapa tidak? Kita bisa melakukannya bersama-sama dengan memberikan kesan positif di lingkungan kita terlebih dahulu. Mulai dari diri kita sendiri, mulai dari tempat kita sendiri, mulai dari yang sederhana dan mulai dari sekarang!

Akses E-Resources Perpustakaan Nasional RI
May 25th, 2013 by arifs

Sekedar sharing buat teman-teman.

Beberapa waktu lalu saya mencoba mendaftar ke melalui www.pnri.go.id untuk dapat mengakses ke e-resourcess yang dilanggan oleh Perpustakaan Nasional RI. Ternyata caranya cukup simpel, yakni:

1. Mendaftar terlebih dahulu sebagai anggota perpustakaan nasional RI, bisa melalui http://keanggotaan.pnri.go.id/ Read the rest of this entry »

»  Substance:WordPress   »  Style:Ahren Ahimsa