Blog Arif Surachman

seorang pustakawan - ayah - abdi negara

Tag Archive etd

Pelestarian Karya Akademik Berbasis Daring

Oleh Arif Surachman*

Bagi perguruan tinggi, karya akademik adalah bukti nyata produk yang dihasilkan dari proses panjang pelaksanaan tri dharma perguruan tinggi. Upaya pelestarian menjadi sangat penting sebagai tanggungjawab moral terhadap perkembangan pengetahuan dan bukti intelektualitas yang dibangun di perguruan tinggi.

Opini Kompas (26/03/2016) menampilkan tulisan Akh Muzakki terkait pengelolaan karya akademik di perguruan tinggi. Pola hibah pengetahuan secara prinsip dapat diterima sebagai upaya ‘menyelamatkan’ hasil pemikiran dan pengetahuan yang dihasilkan oleh sivitas akademika. Akan tetapi menyerahkan begitu saja kepada perpustakaan umum atau sekolah bukanlah solusi terbaik. Segmentasi perpustakaan umum dan sekolah sangat berbeda dengan perguruan tinggi, sehingga kalaupun dipaksakan harus melalui proses yang sangat panjang dan selektif. Artinya jangan sampai niat baik untuk memberikan hibah hanya akan berdampak memindahkan permasalahan ke tempat lain, sehingga tujuan untuk melestarikan karya akademik dan pengetahuan menjadi sia-sia.

Sejak lebih dari lima tahun yang lalu, banyak perguruan tinggi yang sudah mengupayakan pengelolaan dan pelestarian karya akademik berbasis teknologi, yakni dengan memanfaatkan karya bentuk digital dan disediakan dalam jaringan (daring). Apalagi dengan kewajiban unggah karya ilmiah dosen dan mahasiswa secara daring melalui surat edaran Dirjen DIKTI nomor 2050/E/T/2011, maka pengelolaan karya akademik tercetak menjadi kurang relevan lagi. Karya akademik yang diunggah dan kemudian dapat diakses secara luas oleh masyarakat sudah menjadikan pola hibah pengetahuan tersendiri, apalagi beberapa sudah menyediakannya secara open access. Masyarakat secara luas pun dapat secara langsung memanfaatkan karya akademik yang dihasilkan. Pengelolaan karya akademik dimudahkan dengan keberadaan teknologi daring yang memungkinkan distribusi pengetahuan tanpa batas waktu dan tempat, lintas wilayah bahkan lintas Negara.

Banyak perguruan tinggi ‘berlomba’ menampilkan hasil karya akademik seperti skripsi, tesis dan disertasi secara terbuka kepada masyarakat. Bahkan serah terima karya akhir mahasiswa sudah banyak dilakukan dengan melibatkan langsung mahasiswa untuk mengunggah karyanya menggunakan media daring dalam bentuk digital dan tidak lagi menyerahkan dalam bentuk tercetak. Hal ini dilakukan selain untuk memotong rantai birokrasi penyerahan karya akademik, juga mempercepat proses transfer pengetahuan kepada masyarakat. Hasil pemikiran tidak lagi hanya tersimpan di sudut perpustakaan dan hanya diakses secara terbatas akan tetapi dapat langsung dinikmati oleh masyarakat. Berdasarkan opendoar.org (27/3/2016) setidaknya ada 46 perguruan tinggi di Indonesia yang memberikan akses terbuka untuk karya-karya akademik yang dimilikinya. Sedangkan dari onesearch.id (27/3/2016) yang digagas oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, terdapat lebih dari 1 juta karya akademik yang terindeks dan berasal lebih dari 70 perguruan tinggi di Indonesia. Hal ini menunjukkan pemanfaatan teknologi berbasis daring sudah sangat lazim digunakan dalam distribusi karya akademik dan upaya berbagi pengetahuan di perguruan tinggi.

Isu Plagiarisme

Penggunaan teknologi berbasis daring dalam karya akademik juga mempunyai dampak yang signifikan terhadap upaya meminimalisir aksi plagiarisme yang menjadi momok kalangan akademisi. Keterbukaan akses terhadap sumber-sumber pengetahuan yang dihasilkan oleh sivitas akademika di perguruan tinggi membawa dampak kemudahan kontrol bagi budaya copy paste yang marak di kalangan mahasiswa. Komunitas atau masyarakat virtual menjadi alat kontrol bagi upaya-upaya illegal dan jalan pintas yang mencederai etika akademis. Masyarakat akan semakin mudah menemukan kecurangan-kecurangan dalam penulisan karya akhir mahasiswa, sementara mahasiswa akan semakin berpikir ulang untuk melakukan upaya di luar etika akademis seperti melakukan plagiat terhadap karya orang lain. Singkatnya, pemanfaatan teknologi dalam pengelolaan karya akademik tidak saja mempermudah distribusi pengetahuan kepada masyarakat, akan tetapi juga mempersulit upaya illegal yang akan menghambat pengembangan pengetahuan itu sendiri.

Pelestarian karya

Dalam proses mengelola karya akademik, selain tahap produksi, pengolahan, dan diseminasi, tak kalah pentingnya adalah tahap pelestarian (preservasi). Sebuah tahap krusial agar karya akademik selalu dapat diakses dalam jangka waktu yang lama pada masa sekarang dan yang akan datang. Teknologi berbasis daring dan komputerisasi awan semakin mempermudah upaya pelestarian karya akademik yang dihasilkan agar tidak mudah musnah.

Memanfaatkan teknologi alih media ke bentuk digital dan maupun koleksi ‘born digital’, hasil karya akademik dapat dilestarikan tanpa terikat oleh satu tempat atau lokasi. Bahkan dengan pengelolaan karya akademik berbasis daring ini, resiko hilangnya karya akademik akibat bencana seperti banjir, kebakaran, gempa bumi dan sejenisnya dapat diminimalisir. Penggunaan apa yang disebut dengan “Disaster Recovery System” melalui komputerisasi awan menjadi jalan bagi upaya pelestarian pengetahuan berbasis daring dan resiko kehilangan kekayaaan intelektual secara massal. Sehingga kasus seperti yang dikawatirkan banyak orang terkait pemusnahan ribuan karya akademik mahasiswa oleh perpustakaan tidak lagi menjadi debat yang berkepanjangan.

*Pustakawan Universitas Gadjah Mada
** Artikel ini sebelumnya dimuat dalam pustakawan.id